26 Kilo Belut Palembang “Hijrah” ke Bukittinggi

Date:

BUKITTINGGI — Dari rawa-rawa Palembang ke kolam-kolam sejuk Bukittinggi, sebanyak 26 kilogram bibit belut resmi “berpindah tangan”. Bukan untuk santapan, melainkan untuk masa depan.

Bibit belut itu kini menari di kolam budidaya Kelompok Tani Ikan Berkah Alam Mandiri (BAM), Kelurahan Campago Ipuh, Kecamatan MKS, Kota Bukittinggi.

Penebaran belut ini bukan peristiwa biasa. Ia menjadi simbol lahirnya harapan baru di tengah keterbatasan lahan dan menyempitnya ruang hidup sektor pertanian konvensional.

Bantuan tersebut diserahkan bersama pakan ikan, pembangunan gudang pakan, serta perbaikan kolam, paket lengkap untuk memulai usaha secara serius.

“Program ini diajukan melalui aspirasi kelompok pada 2024 dan baru terealisasi pada 2025,” ujar Asril SE, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi NasDem, Jumat (26/12/2025).

Menariknya, program ini berawal dari ide kelompok tani sendiri. Saat itu, Asril masih menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Bukittinggi di akhir masa jabatannya pada 2024. Ide tersebut kemudian diperjuangkan hingga didanai melalui APBD Kota Bukittinggi.

“Ini bukan proyek instan. Selain memperkuat ekonomi, budidaya ini juga menjadi upaya antisipasi agar belut tidak semakin langka di Bukittinggi,” tegas Asril.

Menurutnya, belut Palembang dipilih karena kualitas bibit yang adaptif dan bernilai ekonomis tinggi. Jika dalam beberapa bulan ke depan menunjukkan hasil positif, Asril memastikan dukungan akan terus berlanjut.

“Kalau berhasil, kita dorong lebih besar lagi,” katanya mantap.

Penyerahan bantuan ini turut dihadiri Lurah Campago Ipuh Wisnaldi, Anggota DPRD Kota Bukittinggi Zulhamdi Nova Chandra, serta Neni Anita. Kehadiran lintas level ini memperlihatkan bahwa belut kini bukan sekadar hewan licin, tetapi telah menjadi isu strategis pembangunan ekonomi rakyat.

Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Zulhamdi Nova Chandra IB Amd Pangulu Alam, menyebut budidaya belut sebagai pilihan cerdas di kota yang lahannya terbatas.

“Belut itu efisien, tidak butuh lahan luas. Kalau dikelola serius, ini bisa dikembangkan ke seluruh Bukittinggi,” ujarnya.

Sementara itu, dari sudut pandang politik kerakyatan, Neni Anita, Bendahara DPD Partai NasDem, melihat budidaya belut sebagai model ekonomi alternatif yang membumi.

“Ini bukan sekadar soal ikan, tapi tentang inspirasi. Budidaya belut bisa menjadi percontohan bagi wilayah lain dan bukti bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh dari ide sederhana,” katanya.

Di tingkat pelaksana, optimisme datang dari Roni Chandra Putra, Sekretaris Kelompok Tani Ikan Berkah Alam Mandiri Campago Ipuh. Ia memastikan kelompoknya tidak bergerak tanpa bekal.

“Kami sudah dibekali ilmu dan teknik budidaya. Ini bukan coba-coba, tapi usaha yang dihitung,” ujar Roni.

Saat ini, kelompok tani BAM telah mengelola 13 kolam belut. Dengan manajemen yang konsisten dan dukungan berkelanjutan, jumlah itu diyakini akan terus bertambah.

Di tengah sawah yang menyempit dan ladang yang makin jarang, Campago Ipuh membuktikan satu hal, masa depan pangan dan ekonomi bisa tumbuh dari kolam kecil, licin seperti belut, tapi penuh harapan.

(Pewarta: Alex. Jr)

spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pemerintah Diminta Perkuat Edukasi Masyarakat Seiring Naiknya Kasus Gigitan Ular

IMBCNEWS - Kota Bekasi - Banjir yang melanda sejumlah...

Pintar VS Cerdas, Tahu Banyak atau Tahu Cara?

Oleh: Drs. Rismaidi Tuanku Bagindo Tokoh Masyarakat BukittinggiDi ruang kelas,...

Pendaftaran Beasiswa S2 Double Degree Buka 25 Januari – 15 Februari 2026

Jakarta - IMBCNews - Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan...

Kemenag: Oktober 2026 Batas Waktu Wajib Produk Halal

Jakarta - IMBCNews - Kementerian Agama menegaskan bahwa 17...