IMBCNEWS – Jakarta – Keresahan publik terutama kalangan muda terkait mahalnya biaya pendidikan, makin sulitnya kehidupan dan mencari pekerjaan setelah tamat serta carut marut di panggung politik dan ketatanegaraan membuat viral tagar “Kabur Aja Dulu” makin marak..
Sebut saja misalnya tentang sulitnya melanjutkan pendidikan. Hanya sepertiga pendaftar yang lolos tes masuk perguruan tinggi negeri .
Pada 2024 pendaftar Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) dan Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2024 tercatat 231.104 orang, namun yang diterima dari 785.058 pelamar.
Masuk perguruan tinggi swasta bermutu terlalu mahal biayanya bagi kelas menengah ke bawah, sementara masuk perguruan tinggi abal-abal yang obral gelar bakal makin sulit mencari keerjaan.
Selain lapangan kerja yang sempit, peryaratan pengalaman kerja bagi lulusan baru perguruan tinggi, yang tentu saja tidak mereka miliki, belum lagi, sudah menjadi rahasia umum, praktek KKN dan sogok-menyogok membuat persaingan makin tidak sehat.
Itu antara lain penyebab munculnya hasrat yang dituangkan dalam tagar “Kabur Aja Dulu” untuk mengadu nasib di negeri orang yang pada umumnya jauh lebih baik kesejahteraan, lingkungan kerja dan pospek kariernya.
Tapi, “kabur” atau berkiprah di LN bukanlah perkara mudah. Hanya yang berduit, paling tidak untuk membayar ongkos pesawat, mampu berbahasa asing, memiliki kompetensi atau keahlian tertentu, minimal bisa berbahasa Inggeris atau atau memiliki relasi yang sudah duluan di sana.
Berbagai alasan orang memilih bekerja di luar negeri, mulai dari gaji dan kesejahteraan yang relatif jauh lebih besar, suasana kerja yang lebih profesional, dan keamanan serta kenyamanan, baik di lingkungan kerja mau pun di luarnya.
Contohnya, lulusan dokter dari LN, selain gaji lebih besar dan suasana kerja yag kondusif, mereka enggan “pulang kampung” karena dipersulit dengan berbagai aturan dan juga tidak jarang harus nyogok kesana-kemari.
Jawaban “songong”
Namun alih-alih dicarikan solusinya, ungkapan tagar “Kabur Aja Dulu” direspons negatif, paling tidak oleh Wamen Tenaga Kerja Emmanuel Eben Ezer dan Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid.
Yusron saat ditanya wartawan, menilai tagar “Kabur Aja Dulu” mencerminkan kurangnya patriotik dan rasa cinta pada tanah air.
“Kalau ada (tagar) Kabur Aja Dulu, dia ini warga negara Indonesia apa bukan? Bagi patriotik sejati, kalau memang ada masalah, kita selesaikan bersama,” kata Nusron.
Nusron menyebutkan kabur bukan menjadi solusi bersama jika ada persoalan yang harus diselesaikan. Menurut dia, tren tersebut menandakan sikap permisif warga negara yang tidak mau menyelesaikan masalah bersama.
Menurut dia, pemerintah terbuka terhadap setiap saran dan masukan atau kritik masyarakat dan siap berdialog jika ada isu atau masalah tertentu.
“Kalau kemudian hopeless gitu, memilih kabur aja dulu, itu, ya mohon maaf, menandakan mereka kurang cinta terhadap Tanah Air. Kalau ada masalah ayo kita selesaikan. Masyarakat, pemerintah, siap berdialog,” kata Nusron.
Pernyataan Nusron tentu juga bisa dipertanyakan. Yang harus menyelesaikan persoalan kan pemerintah melalui instansi berwenang, bukan mereka yang mengalami kesulitan yang berstatus korban. Lagian, Apa kapasitas atau wewenang mereka dalam penyelesaian masalah? Wong buat makan saja sulit karena masih nganggur!
Jika orang yang kesulitan mencari pekerjaaan di dalam negeri, betahun-tahun melayangan ratusan surat lamaran tanpa hasil, lalu berangan-angan cari kerja di LN, apakah bisa distigma, mereka bukan patriot?, tidak cinta Indonesia?
Sebaliknya, orang yang bertahan di dalam negeri, sampai mati tidak dapat pekerjaan adalah patriot, cinta Indonesia?
Mungkin pak menteri lupa, tidak kurang dari Rp270-an triliun nilai transfer yang dikirim para pekerja migran pada 2024 atau hampir sepersepuluh dari APBN tahun yang sama.
Hargai para pahlawan devisa
Pemerintah sepantasnya menghargai mereka sebagai “pahlawan devisa” selain bagi pemasukan negara, juga sanak keluarga mereka di kampung halaman yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah.
Hal senada juga reaksi Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer yang tidak mempermasalahkan mengenai tagar “Kabur Aja Dulu” yang ramai diperbincangkan di medsos.
Ebenezer tidak terlalu banyak berkomentar mengenai tagar itu dan mempersilahkan WNI) hengkang dari Indonesia, bahkan ia meminta agar mereka tidak kembali lagi.
Ketika didesak wartawan atas komentarnya tersebut yang diangap tidak berempati pda mereka yang akan kabur ke LN, ia berkilah, saat ini pemerintah sedang fokus mencari solusi untuk menciptakan lowongan kerja bagi sektar 7,4 juta penganggur.
“Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu jangan balik lagi,” ujarnya dengan nada songong.
Sementara Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sultan Najamudin menyayangkan munculnya seruan untuk pindah ke luar negeri lewat #KaburAjaDulu yang beredar di medsos.
Dia menganggap tren tersebut tidak sejalan dengan nilai perjuangan yang sejak lama dianut oleh pemuda Indonesia.
“(Pemuda Indonesia) tidak memiliki DNA yang gampang putus asa dan menyerah dengan keadaan. Negara bangsa ini diperjuangkan dan dibangun oleh anak-anak muda,” kata Sultan dalam keterangan resmi pada Ahad, 16 Februari 2025.
Pernyataan Najamudin agaknya terkesan normatif, tidak membumi, padahal persoalannya sederhana, disebabkan sulitnya kehidupan, termasuk mencari nafkah, ketimpangan, ketidakadilan terjadi di sana-sini, membuat orang berangan-angan ke luar negeri .
Ini yang seharusnya dijadikan bahan introspeksi pemerintah. (imbcnews/sumber diolah




