KONFLIK militer Iran vs Israel masih berlangsung, bahkah makin sengit, dan kedua belah pihak tak hanya menyasar situs-situs militer tetapi juga infrastruktur ekonomi seperti kilang-kilang minyak, sehingga dikhawatirkan bakal menciptakan resesi ekonomi global.
Berikut sejumlah kemungkinan skenario terburuk yang dirangkum dari BBC.
- AS terseret, ikut perang meski negara itu membantah keterlibatan secara langsung, Iran meyakini, AS mendukung Israel, setidaknya secara diam-diam.
Iran berpotensi untuk membalas dengan menyerang aset-aset AS di Timur Tengah, termasuk kamp pasukan khusus di Irak, pangkalan militer di kawasan Teluk, hingga fasilitas diplomatik. Milisi proksi Iran, seperti Hamas dan Hezbollah, mungkin telah melemah, namun kelompok bersenjata pro-Iran di Irak masih aktif.
Pemerintah AS sudah mengantisipasi kemungkinan ini dengan menarik sebagian personel dan memberikan peringatan keras kepada Iran terkait potensi serangan terhadap warganya. Satu saja warga negara AS menjadi korban di Tel Aviv atau lokasi lain, Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan terpaksa mengambil langkah militer.
Menurut para analis militer, hanya AS yang memiliki kemampuan menjangkau fasilitas nuklir Iran seperti di Fordow, menggunakan pesawat pembom dan bom penghancur bunker.
Tekanan Partai Republik
Walau Trump berkomitmen tidak akan memulai “perang tanpa akhir” di Timur Tengah, tekanan dari sebagian anggota Partai Republik yang mendukung perubahan rezim di Iran bisa memengaruhi keputusan militer AS.
Jika AS benar-benar terlibat secara aktif, maka konflik akan meningkat drastis dan membawa dampak global yang menghancurkan.
- Negara-negara Teluk jadi sasaran jika serangan ke Israel tak berhasil melemahkan kekuatan militer negara itu. Iran bisa mengalihkan targetnya ke negara-negara Teluk yang dianggap mendukung Israel. Sasaran bisa berupa infrastruktur energi, seperti kilang minyak dan pelabuhan ekspor. Iran pernah dituduh menyerang ladang minyak Arab Saudi pada 2019, dan Houthi menyerang UEA pada 2022. Meski sempat ada rekonsiliasi antara Iran dan beberapa negara Teluk, banyak dari mereka tetap menjadi lokasi pangkalan udara AS. Beberapa juga diduga membantu Israel menghadang serangan rudal Iran tahun lalu.
Jika Teluk diserang, negara-negara di kawasan itu kemungkinan akan meminta dukungan militer d dari AS dan sekutunya.
- Israel gagal menghancurkan nuklir Iran yang terlindungi, sehingga serangan Israel bisa berakhir sia-sia. Israel bisa saja membunuh sejumlah ilmuwan nuklir Iran, tetapi tak mampu menghapus pengetahuan dan kemampuan teknis yang telah dimiliki Iran.
- Rezim Iran jatuh, kekosongan kekuatan timbul Jika tujuan Israel tercapai dan rezim Islam Iran berhasil digulingkan, muncul pertanyaan besar: apa yang akan terjadi setelahnya?
Buka jalan pergantian rezim
Netanyahu menyatakan bahwa serangan ke Iran bertujuan membuka jalan bagi rakyat Iran untuk meraih kebebasan. Namun, perubahan rezim kerap memicu kekacauan, seperti terjadi di Irak dan Libya.
Kekosongan kekuasaan di Iran bisa memunculkan konflik sipil yang tak terkendali, serta menimbulkan dampak regional dan global yang sukar diprediksi.
Serangan Israel menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Kasta AU IRGC Amir Ali Hajizadeh, Kepala Staf Militer Mohammad Bagheri, serta mantan Kepala Organisasi Energi Atom Fereydoon Abbasi. Merespons agresi Israel, Iran meluncurkan serangan rudal balasan ke sejumlah wilayah musuhnya tersebut.
Militer Israel melaporkan bahwa beberapa titik terkena serangan rudal, termasuk bangunan tempat tinggal di kawasan pesisir Laut Tengah.
Perang Israel-Iran bermula pada Jumat (13/6), setelah kubu Tel Aviv meluncurkan serangan udara berskala besar ke Iran. Serangan tersebut menyasar fasilitas militer dan nuklir, serta menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk komandan tinggi militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
Pihak berwenang Iran menyebut serangan Israel pada Jumat dan Sabtu menewaskan sedikitnya 128 orang, termasuk anak-anak. Ratusan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Sementara itu, serangan balasan dari Iran menewaskan sedikitnya sepuluh warga Israel, total korban menjadi 13 orang. Lebih dari 380 orang dilaporkan terluka.
Harga Minyak Mentah Naik
Mengutip dari Aljazeera, 13 Juni 2025 pukul 16.00 di New York (20.00 GMT), harga minyak mentah jenis Brent yang dianggap sebagai standar internasional, naik 5 persen dibandingkan penutupan pasar sehari sebelumnya.
Kontrak berjangka minyak melonjak lebih dari 13 persen pada satu titik, mencapai level tertinggi sejak Januari. Harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 6%, diperdagangkan di atas US$ 73 per barel.
Harga minyak melonjak sebagai respons terhadap kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah. Selat Hormuz, selat penting yang memisahkan Iran dan Oman adalah satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar dari Teluk Persia.
Sekitar 20% dari total produksi minyak global melewati selat ini setiap harinya. Jika Selat Hormuz terlibat dalam konflik dan mengalami penutupan maka distribusi minyak dunia akan terganggu, membuat harga minyak naik tajam. Kenaikan ini akan memperburuk inflasi global, terutama di Amerika Serikat, karena biaya hidup akan ikut naik.
Jika pengiriman melalui selat kritis tersebut dihentikan, Badan Energi Internasional (IEA) siap melepas cadangan darurat. Namun, hal itu membawa risiko kelangkaan. Ada 1,2 miliar barel dalam cadangan strategisnya. Dunia mengonsumsi sekitar 100 juta barel minyak per hari.
“Jika situasi meningkat hingga penutupan Selat Hormuz, itu akan menjadi krisis minyak terbesar sepanjang sejarah,” kata Matt Gertken, Kepala Strategis Geopolitik dan Wapres Senior di BCA Research, sebuah firma riset makroekonomi, kepada Aljazeera.
Sekjen OPEC Haitham al-Ghais mengkritik IEA atas pernyataannya bahwa IEA dapat melepaskan cadangan strategis, karena hala itu juteru memicu alarm palsu dan menumbuhkan rasa takut di pasar. Saat ini Selat Hormuz masih terbuka meskipun dengan kehati-hatian yang meningkat.
Pasar Saham AS Turun
Tidak hanya minyak dunia yang terkena imbas, Pasar saham AS anjlok pada Jumat, 13 Juni, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengguncang pasar global.
Dikutip dari laman The Economic Times, pasar dibuka dengan penurunan tajam dan terus berada di bawah tekanan sepanjang sesi pada Jumat, 13 Juni 2025:
- Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 500 poin, atau sekitar 1,3 persen.
- S&P 500 turun hampir 1 persen
- Nasdaq-100 anjlok sekitar 1,1 persen dengan saham
teknologi seperti Nvidia dan Tesla memimpin penurunan.
- Saham-saham energi seperti ExxonMobil, Chevron, dan BP mengalami kenaikan bersamaan dengan harga minyak mentah.
- Perusahaan kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin dan Northrop Grumman mengalami peningkatan di tengah meningkatnya ancaman perang.
- Saham-saham sektor perjalanan dan rekreasi anjlok, salah satunya maskapai penerbangan Delta dan United, serta perusahaan pelayaran Carnival.
- Saham teknologi, terutama saham-saham unggulan seperti Nvidia dan Tesla, mengalami penurunan karena investor menarik diri dari aset berisiko.
Penjualan besar-besaran dimulai dalam perdagangan pra-pasar seiring viralnya berita tentang eskalasi konflik .
Dengan ketegangan di Timur Tengah, para trader bersiap menghadapi volatilitas yang meningkat:
- Emas naik sekitar 1,5 persen sebagai aset safe haven.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS berfluktuasi, dengan obligasi 10 tahun sekitar 4,36–4,41 persen.
- Indeks VIX (pengukur ketakutan Wall Street) melonjak, naik lebih dari 13 persen menjadi sekitar 20,4.
- Para analis memperingatkan, jika konflik terus bereskalasi, harga minyak bisa mencapai US$ 100, yang berimbas pada inflasi melambatnya pertubuhan.
Jelas, perang antara kedua kekuatan militer raksasa di Timur Tengah dikhawatirkan menyeet negara-negara lainnya, mengatrol harga minyak dan mendistorsi rantai pasok global. (imbcnews/Theo/sumber diolah: BBC/CNN/al-Jazeera)




