IMBCNEWS – JAKARTA – GENERASI muda atau Gen Z Bangladesh harus berjuang keras mendapatkan dukungan politik usai berhasil menggulingkan pemerintahan Sheikh Hasina pada Agustus 2024, namun kini mreka harus berhadapan dengan partai dan politisi mapan.
Meski telah meluncurkan partai politik baru tahun ini, seperti dilaporkan Reuters (4/12) mereka tampak kesulitan mengonversi semangat revolusi menjadi suara.
Partai Warga Negara Nasional (NCP)dipimpin mahasiswa harus menghadapi persaingan kuat dari dominasi dua partai yang sudah memiliki jaringan dan sumber daya besar, padahal, pemilu Bangladesh yang berlangsung pada Februari 2026 semakin dekat.
Ketua NCP, Nahid Islam (27) mengatakan, partainya kesulitan untuk bersaing karena tak memiliki cukup waktu untuk membangunnya.
Nahid merupakan sosok yang menonjol dalam protes anti-pemerintah yang mematikan tahun lalu dan sempat menjabat dalam pemerintahan sementara di bawah kepemimpinan peraih Nobel Muhammad Yunus.
“Kami menyadari hal ini, tetapi kami tetap menerima tantangannya,” ujarnya, dikutip dari Reuters. Dalam sebuah jajak pendapat, NCP berada di tempat ketiga, dengan dukungan hanya enam persen.
Jauh di belakang
Elektabilitas NCP jauh di belakang Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) pimpinan mantan PM Khaleda Zia yang memimpin dengan 30 persen.
Jamaat-e-Islami bahkan meraih elektabilitas lebih baik dari NCP, menempati posisi kedua dengan 26 persen.
Jajak pendapat itu dilakukan oleh lembaga nirlaba berbasis di AS, International Republican Institute pada Desember.
“Ketika mereka pertama kali diluncurkan, saya melihat harapan dalam diri mereka, seperti semua orang,” kata Prapti Taposhi (25) yang membantu memimpin pemberontakan.
Ia sempat berharap para pendatang baru akan mematahkan kekuasaan dua partai dominan selama puluhan tahun, namun, realitas yang terjadi membuatnya kecewa.
“Mereka mengaku beraliran tengah, tapi tindakan mereka tidak sesuai dengan itu,” ujarnya.
“Mereka ragu untuk mengambil posisi pada isu-isu penting, baik itu hak-hak minoritas maupun hak-hak perempuan, dan ketika mereka melakukannya, sudah terlambat,” sambungnya.
Kesulitan dana
Para pemimpin NCP menilai, sulitnya persaingan ini akibat dari struktur dan dana yang terbatas, serta pendirian terhadap isu-isu utama seperti hak-hak perempuan dan kaum minoritas yang dianggap tak jelas.
Karena itu, mereka menilai, akan sangat sulit untuk memenangkan satu kursi pun jika hanya berdiri sendiri, namun, para analis memperingatkan, beraliansi justru akan menghancurkan citra revolusioner partai.
“Jika mereka bersekutu, publik tidak akan lagi melihat mereka sebagai kekuatan tersendiri di luar Liga Awami, BNP, dan Jamaat,” kata analis politik yang berbasis di Dhaka, Altaf Parvez.
Modal semangat saja agaknya tidak cukup kuat untuk melakukan perubahan karena para elit dan politisi maan akan memperatahnkan kekuasannya habis-habisan (imbcnews/nanangssumber diolah: Reuters)





