Anwar Abbas: Alih Fungsi Hutan ke Sawit Perbesar Risiko Banjir Bandang di Sumatera

Date:

IMBCNews – Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan longsor dalam beberapa pekan terakhir.

Menanggapi fenomena tersebut, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan yang juga Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, memaparkan analisis mengenai kaitan antara hutan gundul, perkebunan kelapa sawit, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di Sumatera.

Menurut Anwar Abbas, hutan yang masih lebat memiliki kemampuan besar dalam mengurangi potensi banjir ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Hutan lebat dapat menyerap dan menahan air hujan, mengurangi aliran permukaan, dan menekan jumlah air yang masuk ke sungai,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa hutan memiliki tiga fungsi utama, intersepsi (menahan air di daun dan cabang), infiltrasi (menyerap air ke dalam tanah), dan perkolasi (mengatur aliran air ke lapisan tanah lebih dalam).

Ketiga mekanisme ini, katanya, membuat hutan berperan penting dalam mengurangi volume air yang berpotensi menimbulkan banjir.

Namun, kondisi berubah drastis ketika hutan ditebang hingga gundul.

“Jika hutan sudah gundul, tidak ada lagi pohon yang menyerap dan menahan air. Hujan deras langsung mengalir ke sungai dan memicu banjir,” kata Anwar.

Ia menambahkan, tanah yang mengeras akibat hilangnya vegetasi menyebabkan air tak lagi meresap, melainkan mengalir cepat ke permukaan.

Situasi ini bukan hanya meningkatkan risiko banjir, tetapi juga memicu erosi dan longsor, karena material tanah mudah tergerus dan menghambat aliran sungai.

Perkebunan Sawit Tidak Mampu Menahan Air Seperti Hutan

Anwar juga menyoroti fenomena alih fungsi lahan dari hutan lebat menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, sawit memang mampu menyerap air, tetapi sangat terbatas.

“Pohon sawit hanya menyerap sekitar 20–30 liter air per hari. Sementara pohon hutan bisa menyerap 100–200 liter per hari,” ungkapnya.

Struktur anatomi sawit berbeda dengan pohon hutan. Sawit memiliki jaringan xilem yang lebih kecil, serta lapisan lilin pada batang yang membuat penyerapan air jauh lebih rendah.

Selain itu, tanah di area perkebunan sawit cenderung lebih padat dan kurang poros. Akibatnya, air lambat meresap dan mudah menggenang, sebuah kondisi yang memperbesar peluang terjadinya banjir.

“Mengganti hutan lebat dengan perkebunan sawit jelas berisiko. Kemampuan sawit menahan air jauh lebih rendah dibandingkan hutan,” tegasnya.

Pemerintah Diminta Dengarkan Pakar Lingkungan

Melihat dampak besar bencana yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar, Anwar menilai perlunya pemerintah memperhatikan analisis para ahli lingkungan hidup, tata ruang, dan akademisi, terutama dalam kebijakan pembukaan perkebunan baru.

“Pemerintah jangan hanya mendengarkan kepentingan pengusaha. Semua pihak harus mempertimbangkan nasihat para ahli agar malapetaka seperti yang terjadi sekarang ini dapat dihindari,” tutup Anwar.

Anwar abba

Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.

spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Isra Mi’raj dan Artinya Bagi Kehidupan Kita

Oleh: Buya Anwar AbbasIMBCNews - Isra artinya berjalan di...

Bangsa Ini Butuh Kritik, Sampaikan dengan Baik dan Benar

Respon terhadap polemik komedi Mens Rea.

Ketua PN Bekasi dalam Jerat KUHP Baru

Oleh: Edi Utama, S.H., M.A - Praktisi HukumIMBCNEWS|Jakarta -...

Menghidupkan Kembali Delik Penghinaan Presiden: Anomali dalam Politik Hukum Pidana Indonesia

Oleh: Taufiqurrohman SyahuriSalah satu capaian fundamental reformasi hukum pasca-1998...