Arab Saudi dan UEA Putus Kongsi

Date:

IMBCNEWS – JAKARTA – ARAB Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai duet  kekuatan geopolitik dan ekonomi paling berpengaruh di  Teluk  “putus kongsi”,  agaknya karena perebutan pengaruh di kawasan.

AFP melaporkan dari Ryadh (2/1), UEA dan Saudi selama bertahun tahu berupaya memperluas pengaruh dari Timur Tengah hingga Afrika di balik rivalitas yang terus tumbuh, lalu tak terhindarkan, meletup ke permukaan. Dari sengketa Yaman hingga Sudan,sampai di  Tanduk Afrika hingga persaingan ekonomi, “dua  sobat  lama” ini kian berseberangan.

Semula, hubungan erat Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) selama bertahun-tahun dianggap sebagai tulang punggung aliansi kedua negara.

MBZ bahkan kerap disebut sebagai mentor bagi MBS pada awal kebangkitannya, namun keretakan mulai terkuak  seiring ambisi keduanya saling bertentangan.

MBS mempercepat reformasi ekonomi besar-besaran di dalam negeri sekaligus menegaskan kembali dominasi regional Arab Saudi, sebaliknya, UEA memperluas pengaruhnya melalui jaringan aliansi dan aktor non-negara di berbagai konflik regional.

Berseberangan di berbagai isu

Kini, Riyadh dan Abu Dhabi di kubu berseberangan dalam isu produksi minyak, konflik Sudan, persaingan di Tanduk Afrika, hingga konflik Yaman, meski secara formal keduanya masih tergabung dalam koalisi militer anti-Houthi.

Perbedaan kepentingan di Yaman menjadi sorotan utama retaknya hubungan kedua negara.

Ketegangan mencuat ketika Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang didukung UEA—dan merupakan bagian dari aliansi pemerintahan Yaman—merebut wilayah kaya sumber daya di provinsi Hadramaut dan Mahra.

Wilayah tersebut sebelumnya dikuasai pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi bahkan dilaporkan membombardir pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA dan ditujukan kepada kelompok separatis itu.

Keretakan sebenarnya sudah muncul sejak UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman pada Juli 2019.

Pakar Yaman dan Teluk, Baraa Shiban, menilai tujuan Arab Saudi dan UEA di Yaman “sangat berbeda” dan “tidak mungkin dipertemukan”.

Yang UEA yang dinilai bersedia “memecah negara” dengan mendukung kekuatan disruptif demi pengaruh, sementara Arab Saudi lebih memilih mempertahankan otoritas yang ada.

Beda ideologi

Shiban pada bagian lain juga menyoroti adanya perbedaan ideologi  yang mendalam dan perebutan hegemoni di kawasan antara Saudi dan UEA.

Ia menyebut ada “obsesi” di kalangan kepemimpinan UEA untuk memerangi Ikhwanul Muslimin – sikap yang coba didorong Abu Dhabi ke seluruh kawasan.

Pendekatan keras ini, menurutnya, tidak sepenuhnya dianut Arab Saudi dan selain itu, Arab Saudi masih ingin mempertahankan posisi sebagai kekuatan regional utama.

“Melihat UEA memiliki pengaruh besar, membuat kesepakatan bilateral dan tiba-tiba memiliki pijakan di banyak negara melalui aktor non-negara adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan Saudi,” ujar Shiban.

Rivalitas juga terlihat jelas di Sudan. Pada November lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji mengakhiri perang di Sudan setelah permintaan MBS saat kunjungan ke Washington.

UEA secara luas dituduh mempersenjatai Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) yang sejak April 2023 bertempur melawan tentara reguler Sudan, meski Abu Dhabi berulang kali membantahnya.

Sementara itu, tentara Sudan justru menerima dukungan dari Arab Saudi. Peneliti Timur Tengah dan Afrika Utara, Emadeddin Badi, mengatakan, sulit melihat langkah STC di Yaman sebagai sesuatu selain “pembalasan UEA atas kunjungan Mohammed bin Salman ke Trump”.

Menurut dia,  kunjungan itu dipahami sebagai sinyal Arab Saudi untuk mendorong sikap lebih keras terhadap UEA.

Tanduk Afrika

Tanduk Afrika menjadi arena persaingan lain karena posisinya yang strategis di dekat Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia.

UEA membangun hubungan erat dengan Ethiopia dan Somaliland—wilayah yang ingin memisahkan diri dari Somalia—serta mengoperasikan pangkalan militer di pelabuhan Berbera sejak 2017.

Sebaliknya, Arab Saudi berupaya memperkuat pemerintah Somalia di Mogadishu. Ketegangan meningkat ketika Israel, yang menjalin hubungan dengan UEA sejak 2020, pekan lalu mengakui Somaliland.

Langkah itu dikecam Arab Saudi bersama sekitar 20 negara mayoritas Muslim lainnya, sementara UEA tidak ikut mengecam.

Tiada teman dan musuh abadi. Yang abadi  cuma kepentingan. (AFP/kompas.com/ns)

spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

China Rilis Kapal Induk Terbang, Pancing Reaksi Barat

IMBCNEWS - JAKARTA - AMBISI China untuk menguasai dunia,...

APSF dan Lahirnya Lagu Anthem “The Greatest Love of APSF”

ASEAN Para Sports Federation (APSF) merupakan pilar utama dalam...

IMBCNEWS - JAKARTA - KEMENLU RI memastikan bahwa Indonesia...

PBB Kecam Kebiadaban Israel Bongkar Gedung UNRWA di Yerusalem

IMBCNEWS Jakarta | PBB murka terhadal Israel yang membongkar...