IMBCNews – JAKARTA – “TIDAK ada lawan atau teman abadi, yang abadi cuma kepentingan”, ungkap pameo lawas, yang agaknya mirip dengan relasi antara duaa raksasa ekonomi: Amerika Serikat dan China.
Setelah berbulan-bulan tegang akibat perang dagang, AS dan China akhirnya membuka lembaran baru dengan duduk bersama di meja perundingan.
Pertemuan antara kedua pejabat tinggi berlangsung di Bern, Swiss, Sabtu (11/5) menandai pembicaraan pertama sejak Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor baru pada produk sejumlah negara termasuk China, 3 April lalu.
Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social miliknya seperti dikutip Reuters (12/5) memuji hasil pertemuan itu atas sejumlah poin yang disepakati, dan mengapresiasi keterbukaan pihak China.
Semula Trump hanya mengenakan tarif baru sebesar 34 persen atau kurang lebih sama dengan yang dikenakan pada rata-rata negara lain, misalnya terhadap Indonesia (32 persen).
Namun China membalasnya dengan ikut menaikkan tarif pada barang-barang impor AS, yang lalu direspons lagi oleh Trump dengan menaikkan lagi tarif impor dari China menjadi 125 persen, kemudian menjadi 145 persen. China kemudian mengenakan tarif 125 persen pada barang impor AS.
Retorika perang tarif terus digemakan oleh keduanya yang masing-masing merasa, pihak lawan lebih membutuhkan kesepakatan.
“Tidak ada pihak yang ingin terkesan mengalah,” kata Stephen Olson, peneliti tamu senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura sekaligus mantan negosiator perdagangan AS kepada BBC.
Namun tensi yang menegang mulai mencair, kedua negara mungkin mulai berikir untuk mengakhiri kebuntuan dengan memulai dialog.
“Pembicaraan sedang berlangsung sekarang karena kedua negara telah menilai bahwa mereka dapat bergerak maju tanpa terlihat menyerah pada pihak lain,” tutur Ishak.
Permintaan siapa?
Sementara jubir Kemlu, Lin Jian, menyatakan bahwa pembicaraan ini digelar atas permintaan Washington, sedangkan Kementerian Perdagangan China menyebut pertemuan ini sebagai bentuk respons terhadap keluhan dari pelaku usaha dan konsumen AS.
Namun, pemerintahan Trump justru mengklaim bahwa Beijing yang mendesak agar perundingan terjadi karena ekonomi China tengah terpukul.
“Mereka bilang kami yang memulai? Yah, saya pikir mereka harus kembali dan mempelajari berkas mereka,” ucap Trump di Gedung Putih, Rabu lalu.
Meski demikian, dalam pernyataan terbaru, Trump terdengar lebih akomodatif. “Kita semua bisa bermain-main. Siapa yang membuat keputusan pertama, siapa yang tidak bermasalah. Yang penting adalah apa yang terjadi di ruangan itu (pertemuan di Bern maksudnya-red),” katanya kepada wartawan, Kamis (9/5).
Momen strategis bagi China di mana pertemuan ini juga bertepatan dengan lawatan Presiden Xi Jinping ke Moskwa, menjadi tamu kehormatan dalam Parade Hari Kemenangan peringatan 80 tahun kemenangan Rusia atas Nazi Jerman.
Kehadiran Xi di antara para pemimpin dari berbagai negara di Belahan Bumi Selatan memberi pesan kuat kepada AS bahwa China ingin menunjukkan bahwa mereka punya alternatif dalam hubungan dagang dan peran global.
Momen ini pun dimanfaatkan untuk menunjukkan posisi tawar China yang tetap kuat meski bersedia berunding. Trump tetap bersikeras bahwa tarif akan menguatkan ekonomi AS, sementara Beijing bersumpah untuk “berjuang sampai akhir.”
Sama-sama merugi
Namun data ekonomi menunjukkan bahwa kedua negara justru sama-sama merasakan dampaknya. Di China, produksi pabrik anjlok. Aktivitas manufaktur pada April turun ke level terendah sejak Desember 2023.
Survei yang dilakukan Caixin menunjukkan sektor jasa juga melemah hingga mencapai titik terendah dalam tujuh bulan terakhir.
Menurut laporan BBC, banyak eksportir China yang menumpuk stok karena produk mereka tertahan akibat tarif tinggi.
Mereka mulai mengalihkan pasar ke luar AS, meski menghadapi banyak tantangan.
“Saya pikir China menyadari bahwa kesepakatan lebih baik daripada tidak ada kesepakatan,” kata Bert Hofman, profesor di Institut Asia Timur, Universitas Nasional Singapura.
Di sisi lain, perekonomian AS juga terkena imbas. Ketidakpastian yang timbul dari kebijakan tarif membuat ekonomi Negeri Paman Sam mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Sektor bisnis pun mulai resah. Seorang pengusaha mainan di Los Angeles mengatakan kepada bahwa mereka mengalami kehancuran total rantai pasokan, bahkan Trump mengakui, konsumen akan terdampak.
Kerjasama saling mengutungkan, take and give, agaknya menjadi pilihan, sebaliknya, aksi provokasi, ancam sana-sini, akhirnya merugikan diri sediri. (Reuters/BBC/Akun Truth Social/ns)




