BUKITTINGGI — Di tengah hiruk-pikuk malam pergantian tahun, sebuah pemandangan hangat justru tersaji sederhana di Ayam Gepuk Stasiun Kota Bukittinggi.
Tanpa gaun pesta, tanpa meja mewah, tanpa gemerlap berlebihan, hanya piring-piring nasi hangat, ayam gepuk pedas, dan tawa kecil yang menyatu dalam satu meja keluarga. Dihidangkan penuh senyum oleh pramusaji muda nan bersahaja.
Malam itu, saat jarum jam perlahan mendekati pergantian tahun, satu keluarga tampak menikmati makan malam dengan wajah penuh rasa syukur.
Anak-anak tertawa riang, orang tua sesekali tersenyum sembari menyuapkan makanan. Tak ada ambisi berlebihan menyambut tahun baru, yang ada hanyalah kebersamaan, kehangatan, dan rasa cukup.
Ayam Gepuk Stasiun, yang dikenal sebagai tempat makan merakyat di jantung Kota Bukittinggi, seolah menjadi saksi bisu bahwa kebahagiaan tak selalu lahir dari pesta besar atau hitung mundur megah.
Di sudut kota yang sejuk ini, bahagia hadir dalam bentuk yang paling jujur, makan bersama orang tercinta.
Di luar, suara terompet dan petasan bersahutan. Jalanan ramai oleh lalu lalang warga yang merayakan pergantian tahun dengan caranya masing-masing.
Namun di dalam rumah makan sederhana itu, waktu seakan melambat, memberi ruang bagi makna yang sering terlupakan: kebersamaan adalah kemewahan sejati.
Malam pergantian tahun di Bukittinggi pun menjadi pengingat, bahwa bahagia tak selalu soal ke mana kita pergi atau apa yang kita miliki.
Terkadang, bahagia hanya butuh satu meja kecil, satu hidangan sederhana, dan orang-orang yang saling mencintai di sekelilingnya.
Karena pada akhirnya, seperti yang tergambar jelas di Ayam Gepuk Stasiun malam itu, bahagia memang sesederhana itu.
Penulis: Alex. Jr
(Bukittinggi, 31 Desember 2025)





