BUKITTINGGI — Di tengah riuh notifikasi WhatsApp, dering Zoom, dan linimasa media sosial yang tak pernah tidur, ada satu suara yang kini nyaris punah dari ingatan kota, kring… kring… khas telepon umum koin.
Di Bukittinggi, kota berhawa sejuk yang sarat sejarah dan romantika masa lalu, jejak alat komunikasi legendaris ini pernah menjadi denyut nadi kabar, rindu, dan harapan.
Jauh sebelum смартфон menggenggam dunia, telepon umum koin berdiri gagah di sudut-sudut kota, di dekat pasar, terminal, stasiun, hingga pelataran kantor pos.
Alat itu bukan sekadar mesin, melainkan “jembatan rasa” bagi mereka yang ingin menyapa keluarga di kampung, mengabarkan kabar baik, atau sekadar memastikan orang terkasih baik-baik saja.
Dikutip dari laman Wikipedia, telepon umum koin pertama kali muncul pada akhir abad ke-19, seiring populernya telepon sebagai alat komunikasi.
Di masa itu, telepon adalah barang mewah. Tak semua rumah memilikinya. Maka, kehadiran telepon umum koin menjadi solusi demokratis, siapa pun bisa berkomunikasi, asal punya koin di saku.
Di Indonesia, telepon umum koin mulai hadir pada era 1970-an dan mencapai masa keemasan pada dekade 1980–1990-an.
Di Bukittinggi, alat ini pernah menjadi saksi antrean panjang anak rantau yang hendak menelepon orang tua, pedagang yang menanyakan harga barang, hingga kisah asmara yang bergetar di balik bilik sempit beraroma logam dan debu kota.
Bagi generasi yang tumbuh di era itu, kenangan telepon umum koin terasa begitu nyata. Bunyi koin jatuh, detik-detik bicara yang diburu waktu, hingga kepanikan saat koin habis sebelum kalimat selesai.
Telepon umum koin mengajarkan satu hal penting, komunikasi itu berharga, setiap kata harus bermakna.
Namun, waktu tak pernah bernegosiasi. Ketika telepon seluler semakin murah dan internet masuk ke setiap genggaman, kejayaan telepon umum koin perlahan meredup.
Satu per satu menghilang, tersisih oleh layar sentuh dan sinyal digital. Kini, di Bukittinggi maupun kota-kota lain, keberadaannya tinggal cerita atau foto usang dalam ingatan.
Hari ini, telepon umum koin mungkin hanya bertahan sebagai benda koleksi atau nostalgia yang dibicarakan sambil tersenyum.
Tetapi perannya dalam sejarah komunikasi Indonesia tak bisa dihapus begitu saja. Alat itu adalah simbol kesederhanaan, kesabaran, dan kedekatan manusia sebelum teknologi melesat terlalu jauh.
Telepon umum koin telah berpulang dari ruang publik, namun kenangannya tetap hidup.
Di kota seperti Bukittinggi, yang selalu pandai merawat sejarah, kisah tentangnya menjadi pengingat bahwa sebelum dunia serba cepat, manusia pernah belajar menunggu, demi satu panggilan yang berarti.
By: Alex. Jr
(Bukittinggi, 25 Desember 2025)





