Dr. Ressi Dwiana: Jurnalis Harus Ubah Narasi Bencana dari Kesedihan Menuju Optimisme Bangkit

Date:

IMBCNEWS|DEPOK – Pakar Komunikasi Bencana dari Universitas Indonesia, Dr. Ressi Dwiana, M.A., menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pola komunikasi bencana di Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan disinformasi di media digital.

Dalam sebuah diskusi nasional “Profesionalisme Media Dalam Pemberitaan Bencana” di Kantor PWI Kota Depok pada Selasa siang (6/1/26).

Bersama praktisi media, Dr. Ressi menyoroti bahwa kecepatan informasi yang ditawarkan media digital seringkali tidak berbanding lurus dengan ketepatan data yang dibutuhkan oleh para penyintas di lokasi bencana.

Dr. Ressi, yang memiliki pengalaman empiris sejak tsunami Aceh 2004 hingga gempa Palu 2018, mengusulkan pemisahan yang tegas antara konsep mitigasi dan kesiapsiagaan dalam manajemen pra-bencana.

Menurutnya, mitigasi berkaitan erat dengan pengetahuan masyarakat terhadap potensi ancaman di wilayahnya, sementara kesiapsiagaan berfokus pada kesiapan infrastruktur dan jalur evakuasi.

Kita harus membedakan kedua hal ini. Mitigasi adalah soal pemahaman, sedangkan kesiapsiagaan adalah soal infrastruktur fisik. Apakah kita tahu titik kumpul jika terjadi gempa? Apakah akses pintu keluar di gedung-gedung publik sudah memadai? Faktanya, banyak jatuhnya korban jiwa bukan disebabkan oleh bencana itu sendiri, melainkan karena konstruksi bangunan yang tidak aman atau kurangnya akses evakuasi,” ujar Dr. Ressi.

Menyoroti peran teknologi, Dr. Ressi mengingatkan adanya fenomena digital divide atau kesenjangan digital yang fatal saat keadaan darurat.

Ia mencontohkan peristiwa tsunami Palu tahun 2018, di mana masyarakat di luar daerah mengetahui bencana tersebut melalui media sosial, namun warga lokal justru terisolasi informasi akibat tumbangnya infrastruktur telekomunikasi.

Informasi di media sosial memang cepat, tetapi seringkali tidak tepat sasaran. Saat tsunami Palu, orang di Jakarta tahu ada bencana, tapi orang di Palu justru tidak tahu karena sinyal hilang. Ini adalah ironi di mana informasi yang sangat dibutuhkan oleh penyintas justru tidak sampai kepada mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahaya disinformasi atau hoaks yang kerap memanfaatkan narasi keagamaan atau ramalan yang tidak ilmiah untuk memicu kepanikan massa.

Dr. Ressi menekankan bahwa bencana seperti gempa bumi secara saintifik belum dapat diprediksi secara akurat, sehingga masyarakat diminta hanya merujuk pada data resmi otoritas terkait seperti BMKG.

Dr. Ressi juga memberikan kritik membangun bagi para jurnalis dalam membingkai berita bencana.

Ia mendorong media untuk mulai beralih dari narasi yang mendramatisir kesedihan (melancholic narrative) menuju narasi yang membangun optimisme dan resilience (ketangguhan).

Secara psikologis, penyintas bencana itu sebenarnya kuat. Terkadang, narasi media yang terlalu mendramatisir justru membuat mentalitas masyarakat menjadi lemah. Media harus berperan sebagai ‘susu’ yang menetralisir keruhnya informasi di ruang publik, memberikan edukasi yang mencerahkan, dan mendorong semangat untuk bangkit,” tutupnya.

Melalui pendekatan berbasis big data dan kecerdasan buatan (AI) yang kini mulai diadaptasi, Dr. Ressi berharap jurnalis digital dapat menjadi garda terdepan dalam menyaring informasi yang valid, sekaligus menjadi instrumen edukasi publik demi meminimalisir risiko jatuhnya korban di masa depan.(*)(imbcnews)

taufik
taufik
Menulis Data Menyampaikan Fakta.
spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Suara Pedagang di Bukittinggi & Strategi Jitu Ditengah Badai Ekonomi

BUKITTINGGI – Di tengah pasar yang kian sunyi, dompet...

Memahami Triangulasi Penelitian: Konsep dan Penerapannya secara Sistematis

Dalam penelitian, khususnya penelitian kualitatif, keabsahan dan kredibilitas data...

Saat Guru PAI Masih Mengeja Ayat

JAKARTA - Asesmen nasional Kementerian Agama RI mengungkap fakta...

Gerakan Bibit Siklon Aktif di Selatan NTB

IMBCNEWS - JAKARTA - BMKG mendeteksi pergerakan Bibit Siklon...