Pekerjaan Gedung Perpustakaan Bukittinggi Molor, Rekanan Didenda Hampir Rp8 Juta per Hari

Date:

BUKITTINGGI — Proyek pembangunan Gedung Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi senilai Rp7,9 miliar menuai sorotan. CV Cakrawala Perkasa selaku kontraktor pelaksana dinilai gagal menuntaskan pekerjaan sesuai batas akhir kontrak, meski waktu pelaksanaan telah diperpanjang melalui adendum.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Denovia Jamal, menegaskan keterlambatan tersebut kini berujung pada pemberlakuan sanksi denda terhadap rekanan.

“Terjadi keterlambatan. Saat ini telah masuk tahap denda diberlakukan ke rekanan,” kata Denovia Jamal kepada media, Selasa (30/12/2025).

Menurut Denovia, hingga 28 Desember 2025, tanggal berakhirnya kontrak adendum, progres fisik pembangunan baru mencapai 97 persen.

“Masih tersisa sekitar 3 persen lagi,” ungkap Denovia Jamal, S.T, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Bina Marga (Kabid BM) Dinas PUPR Kota Bukittinggi.

Ia menjelaskan, denda keterlambatan mulai diberlakukan sejak dua hari terakhir, setelah kontrak adendum resmi berakhir. Nilai dendanya tidak kecil.

“Nilai denda dibebankan kepada rekanan itu kurang sedikit dari Rp8 juta per hari. Angka tersebut diambil dari 1/1000 nilai kontrak sebelum PPN,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, proyek strategis daerah ini dikerjakan oleh CV Cakrawala Perkasa dengan pengawasan dari PT Synpra Engineering Consultant. Kontrak awal menetapkan masa pelaksanaan selama 180 hari kalender, terhitung sejak 10 Juni hingga 6 Desember 2025.

Namun, dalam perjalanannya, waktu pengerjaan diperpanjang hingga 28 Desember 2025 melalui adendum, menyusul adanya tambahan pekerjaan dari sisa kontrak. Sayangnya, perpanjangan waktu tersebut tetap tak mampu mendorong penyelesaian proyek secara tepat waktu.

Keterlambatan ini memunculkan tanda tanya publik terkait perencanaan, manajemen waktu, dan komitmen pelaksana proyek. Terlebih, gedung perpustakaan tersebut diharapkan menjadi ikon baru literasi dan pusat pengetahuan masyarakat Kota Bukittinggi.

Kini, selain harus menuntaskan sisa pekerjaan, rekanan juga harus menanggung konsekuensi finansial yang terus berjalan setiap harinya selama proyek belum rampung.

IMG 20251024 WA0028 Pekerjaan Gedung Perpustakaan Bukittinggi Molor, Rekanan Didenda Hampir Rp8 Juta per Hari

Sebelumnya, coran balok pada proyek pembangunan Gedung Perpustakaan Umum Kota Bukittinggi, ditemukan berongga hingga tulangan besi di dalamnya terlihat.

Beton yang keropos setelah selesai dicor, masalah serius yang dapat mengganggu kekuatan dan stabilitas struktur bangunan.

Keropos atau honeycomb, kemungkinan terjadi ketika campuran beton tidak mengisi seluruh celah dalam bekisting, sehingga meninggalkan rongga dan membuat tulangan besi terlihat.

Balok yang keropos tidak dapat mendistribusikan beban secara merata, sehingga meningkatkan risiko keretakan atau kegagalan struktur di masa depan, jika tidak diperbaiki.

Namun, setelah mendapatkan teguran dari PPK, Denovia Jamal, coran berongga hingga tulangan besi di dalamnya terlihat sudah diperbaiki. (*)

spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

LSM KOPI dan Grassroot Perkuat Kolaborasi Selamatkan Situ di Depok

IMBCNEWS|DEPOK – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup di Kota...

Bantaran Kali Cipinang Longsor, Pembangunan Turap Terkendala Anggaran dan Skala Prioritas

IMBCNEW|DEPOK – Bencana tanah longsor kembali melanda kawasan bantaran...

Pemerintah Diminta Perkuat Edukasi Masyarakat Seiring Naiknya Kasus Gigitan Ular

IMBCNEWS - Kota Bekasi - Banjir yang melanda sejumlah...

Pintar VS Cerdas, Tahu Banyak atau Tahu Cara?

Oleh: Drs. Rismaidi Tuanku Bagindo Tokoh Masyarakat BukittinggiDi ruang kelas,...