Oleh Nurzengky Ibrahim
IMBCNEWS | Betapa sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (Saw) kepada ummatnya. Di antara tanda-tanda cinta dan sayang beliau, antara lain termaktub dalam sebuah hadits; Rasulullah Saw bersabda:
“Wahai Abu Bakar, aku sangat rindu untuk bertemu saudara-saudaraku.” Abu Bakar pun bertanya; “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu?”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “Tidak, wahai Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman padaku.” (HR. Muslim).
Iman ummat terhadap Allah dan RasulNya, tentu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rasa cinta dan sayangnya Nabi Muhammad Saw. Bahkan beliau sangat merindukan, hingga yang tidak jumpa langsung diposisikan sebagai saudara. Di atas rasa cinta dan sayang tersebut, Rasulullah Saw pun mengemukakan kekhawatiran, karena ummat pada akhir zaman menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Kekhawatiran Nabi Saw., antara lain:
1. Tertutupnya hati nurani, akal pikiran dan bangkitnya hawa nafsu;
Berlimpahnya harta duniawi yang menyebabkan antara mereka saling berebut bahkan berseteru dan ada kalanya terjadi pembunuhan; Sehingga di antara mereka, banyak juga yang terjerumus pada kebinasaan.
Kebinasaan itu terjadi, digambarkan Rasulullah Saw akibat dari kecintaan berlebihan pada kenikmatan dunia atau hubbud duniya. Akabatnya lagi, hubbud duniya berlebihan menutupi hati nurani, akal pikiran, hingga membangkitkan hawa nafsu untuk menguasi duniawiyah di berbagai bidang dengan segala cara; Antara halalan thayibah dengan subhat sampai haram hukumnya, bercampur-baur.
Rasulullah Saw., pada masa hidupnya pun sempat bersabda; “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah dihamparkannya dunia pada kalian sebagaimana dihamparkan pada ummat-ummat sebelum kalian; Sehingga, mereka saling berlomba-lomba memperebutkannya. (Merebutkan cinta pada) dunia itu, akan membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka (ummat sebelum kalian).” (HR Bukhari).
Beberapa pakar hadits mengatakan, bahwa melalui hadist ini, Rasulullah Saw tidaklah memerintahkan ummat Islam menjadi fakir atau miskin; Pada hadits yang lain, Nabi Saw juga memberikan semangat dan motivasi agar selaku ummat beliau selalu bekerja keras diiringi berdoa, dalam upaya menghindarkan diri dari perilaku meminta-minta kepada manusia. Itu artinya, hadits ini lebih memiliki bobot peringatan; Agar kaum mukmin tidak miskin akses dalam membangun kekuatan perekonomian, dan pula tidak sampai terjerumus cinta berlebihan kepada hal-hal yang bersifat duniawi.
Cinta berlebihan kepada keduniaan, tidak hanya melalaikan pentingnya kehidupan abadi di akhirat. Akan tetapi juga, cinta dunia yang berlebihan berpotensi membinasakan: tak hanya bagi diri sendiri namun juga orang lain di lingkungan kehidupannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala (Swt) melansir:
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ
“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS at-Takatsur [102]: 1-2).
Ibnu Katsir berpendapat bahwa ayat ini, dalam tafsirnya ia menyebut: yang dimaksud dengan berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) pada ayat tersebut adalah memperbanyak harta dan anak.
Berangkat dari pendapat mufasir Ibnu Katsir, penulis memandang bahwa harta benda memiliki potensi pada kehidupan yang serba mewah dan bermegahan-megahan. Sedangkan anak yang berada pada lingkungan kemewahan dan kemegahan cenderung memunculkan rasa egoistis hingga hedonis. Potensi ini jika berkembang dapat pula menjerumuskan diri dan keluarga pada gaya hidup yang ditunggangi hubbud duniya berlebihan.
Betapa tidak. Seringkali terjadi keluarga yang cintanya berlebihan terhadap kemewahan dan kemegahan duniawi, berujung pada keangkuhan sehingga ia memandang; Orang lain yang tidak mempunyai harta berkuantitas sama atau lebih tinggi dengannya, akan dianggap sebagai kaum rendahan. Bahkan, dalam struktur sosial, kaum rendahan –apa lagi miskin harta– cenderung dianggap orang tolol, tidak beradab dan mendapatkan hinaan-hinaan lain.
2. Perbuatan riya dan mengemukanya syirik
Kekhawatiran Rasulullah Saw berkaitan dengan kecintaan berlebihan ummatnya kepada dunia berupa syirik kecil yaitu munculnya riya. Potensi ini sangat terbuka, apa lagi jika cinta dunia yang berlebihan itu telah menutup hati nurani, akal pikiran dan cengkeraman hawa nafsu telah menguasai jiwanya.
Dalam sebuah hadits, Nabi Saw bersabda; “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya’. Allah azza wajalla berfirman pada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka, ‘Temuilah orang-orang yang dulu kamu (pernah) berbuat riya kepada mereka di dunia, lalu lihatlah: apakah kalian menemukan balasan di sisi mereka?” (HR. Ahmad).
Riya, agaknya memiliki relevansi dengan keadaan zaman dewasa ini. Pada masa sekarang, keberadaan zaman sedang diikat dengan teknologi internet. Teknologi ini, bahkan sudah menjamah banyak lini kehidupan di lingkungan kehidupan kita.
Media sosial misalnya, telah turut memudahkan ummat mana pun untuk memperlihatkan dan menayangkan konten apa pun pada banyak orang; Jangkauannya tidak lagi dibatasi lautan dan benua, namun mampu menembus hujan dan badai hingga sampai berbagai belahan dunia.
Pada gilirannya, semua aktivitas ummat dewasa ini, hasilnya akan bergantung kepada niatnya. Dan niat, boleh jadi sebagai penentu hasil. Sekiranya niat seseorang ikhlas karena Allah Ta’ala sebagaimana dicontohkan Nabi Saw., maka peluang untuk mendapakan balasan terbaik dari-Nya cenderung terbuka.
Hanya saja, sekiranya niat seseorang hanya untuk mengais keuntungn duniawi dan pula bercampur dengan riya; Maka, orang niat demikian peluangnya hanya mendapatkan balasan dari manusia. Sedangkan kebinasaan lebih cenderung menjadi ancaman konret baginya.
Dapat juga disimpulkan, bahwa hubbud duniya merupakan penyakit berbahaya. Oleh karena itu, ummat Islam selaku pengikut Rasulullah Saw, hendaknya menyadari dan mampu pula memahami akan bahaya penyakit hubbud dunia berlebihan tersebut; Sehingga, selaku ummat Nabi Muhammad hendaknya selalu berusaha untuk terhindar dari ancaman kebinasaan.
Salah satu doa yang dapat diamalkan oleh ummat Rasulullah Saw., antara lain terdapat dalam sebuah hadis:
“Allahumma, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari hawa nafsu yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR Abu Daud).
Semoga kaum mukminin-mukmiat yang dicintai Allah dan RasulNya terselamatkan dari dua kekhawatiran sebagaimana telah penulis urai dan bahas, yaitu cinta berlebihan kepada dunia dan riya. Semoga pula kelak, kita sama-sama memperoleh syafa’at dari Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (*)




