IMBCNews – JAKARTA – DI TENGAH gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Sabtu (10/5), dua negara bertetangga India dan Pakistan saling tuding telah melakukan pelanggaran.
AFP mengutip pernyataan pemerintah India (11/5) menyatakan, pasukannya melancarkan aksi balasan atas pelanggaran berulang yang dilakukan pasukan Pakistan.
Sebaliknya pihak Pakistan membantah tuduhan tersebut dan menyebut pasukannya tetap menunjukkan sikap bertanggung jawab dan menahan diri di medan tempur.
Konflik besar antara India vs Pakistan yang pertama terjadi usai kemerdekaan keduanya sepeninggal penjajah Inggeris pada 1947, lalu pada 1949 ,1965.
Ketiga konflik dipicu sengketa di Kashmir, kecuali konflik 1971 terkait pemisahan diri Bangladesh dari Pakistan Timur. Pada 1999 pecah konflik lagi antara India dan Pakistan di Dataran Tinggi Kargil, Kashmir.
Sekitar 45 persen wilayah Kashmir dikuasai India, 35 persen Pakistan dan sisanya 20 persen yang taka berpenghuni dikuasai China.
Sementara itu, seorang pejabat senior di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan mengatakan kepada AFP, Sabtu (10/5), baku tembak berlangsung di sepanjang Garis Kontrol (LoC), perbatasan de facto pemisah kedua wilayah yang disengketakan.
Belum ada konfirmasi independen terkait klaim dari masing-masing pihak, dan rincian lebih lanjut masih minim.
AS mediasi gencatan senjata
Presiden AS Donald Trump yang berupaya memediasi
menyatakan, kedua negara bertetangga bersenjata nuklir itu akhirnya mundur dari ambang perang besar.
“Setelah perundingan panjang yang dimediasi oleh Amerika Serikat, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa India dan Pakistan telah sepakat melakukan gencatan senjata penuh dan segera, “ ujar Trump, Sabtu (5/10).
Trump dalam pernyataan tertulisannya menyampaikan selamat kepada kedua negara yang disebutnya “telah menggunakan akal sehat dan kecerdasan yang hebat”.
Sementara Menlu India, Vikram Misri, menyebutkan bahwa gencatan senjata mencakup penghentian semua aksi militer, baik di darat, udara, maupun laut, yang mulai berlaku pukul 17.00 waktu setempat.
Namun, ia menegaskan bahwa pihak Pakistan melakukan pelanggaran berulang terhadap kesepakatan tersebut.
“Angkatan bersenjata India memberikan tanggapan yang memadai dan tepat,” ujar Misri, sebaliknya, Kemenlu Pakistan menyatakan, pihaknya tetap berkomitmen menjalankan gencatan senjata secara penuh.
Serangan drone Pakistan kembali mengguncang wilayah Kashmir yang dikuasai India pada Jumat (9/5) yang merupakan insiden kedua dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya perang India-Pakistan.
Menurut jubir militer India, sekitar 300-400 drone dikerahkan dari Pakistan, namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh kantor berita AFP.
Sedangkan sumber dari pertahanan India menyebutkan, sejumlah drone terlihat di wilayah Jammu dan Samba di Kashmir India, serta di Pathankot, Punjab.
Berdampak luas
Sementara kompas.com dalam ulasannya (11/5) menyebutkan, konflik India-Pakistan yang sudah berlangsung selama lebih tujuh dekade, bisa berdampak luas, sampai kawasan Asia Tenggara.
Ketegangan antara kedua negara ini berakar pada masalah sejarah, agama, dan teritori, terutama terkait dengan wilayah Kashmir yang menjadi titik sengketa.
Persaingan antarkeduanya telah melibatkan elemen-elemen geopolitik global. India dan Pakistan, sebagai kekuatan besar di kawasan , terus memperkuat militernya termasuk senjata nuklir.
Konflik India-Pakistan, meskipun sering dipandang sebagai masalah bilateral, juga dapat memengaruhi negara-negara di luar Asia Selatan, salah satunya adalah makin maraknya penyebaran radikalisasi, baik melalui medsos maupun saluran wahana lain.
Kelompok-kelompok ekstremis yang terinspirasi oleh ketegangan di India dan Pakistan dapat memengaruhi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Konflik India-Pakistan berawal dari partisi oleh Inggeris pada 1947 terkait pembentukan India sebagai negara mayoritas Hindu dan Pakistan sebagai negara mayoritas Muslim.
Meskipun sejumlah perjanjian damai telah dicapai , seperti gencatan senjata 1949 dan 1972, situasi di Kashmir tetap menjadi sumber ketegangan yang memicu konflik terbuka dan instabilitas.
Bagi Indonesia, pembelajaan yang bisa diambil adalah agar isu agama tidak jadi pemicu sikap fanatisme penganut masing-masing dengan terus meningkatkan literasi kebangsaan, pluralisme, toleransi dan saling menghargai. (imbcnews/Theo/sumber diolah: AFP/kompas.com/ns)