IMBCNEWS – JAKARTA – KONFLIK militer masif antara dua negara seteru bebuyutan di kawasan Timur Tengah: Iran dan Israel (13 – 24 Juni) berakhir dengan gencatan senjata, namun siapa pemenangnya masih terus diperdebatkan.
Pengamat dan dosen hubungan int’l Universitas Padjadjaran (Unpad) Dina Sulaeman meyakini, perang singkat tersebut dimenangkan oleh Teheran, bukan Israel.
Hal tersebut disampaikan Dina dalam Webinar Perkembangan Konflik Israel-AS-Iran: Implikasi Global dan Respons Indonesia, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
“Israel awalnya memang menang, tapi, kalau bicara soal kemenangan strategis, kemenangan ideologis, saya pikir Iran yang menang,” kata Dina, sebagaimana ditulis Antara.
Dina menilai, serangan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 13 Juni bertujuan untuk menihilkan ancaman Iran yang mendukung kelompok-kelompok milisi perlawanan terhadap Israel.
Namun Israel tidak memperkirakan budaya dan peradaban Iran yang dengan cepat melakukan serangan balasan meski Israel berhasil menewaskan sejumlah pejabat teras militer dan Satuan Garda Revolusi serta puluhan ilmuwan nuklir.
“Bicara soal kultur, ketika ada tokoh tokoh yang gugur, Iran justru bukan membunyikannya, malah mnyampaikannya ke publik, “ tutur Dina.
Dengan cara itu dukungan rakyat justeru termobilisasi,” kata Dina seraya menambahkan, Iran dengan cepat melakukan pergantian tokoh-tokoh yang gugur oleh serangan Israel dan ;angsung membalasnya.
Mengutip pernyataan tokoh Iran Ali Larijani, Iran memang mengakui bahwa mereka terpukul akibat serangan Israel pada 13 Juni, namun rakyat cepat bangkit dan bersatu mendukung pemerintah.
Yang menarik dari pernyataan Larijani, kata Dina, adalah bahwa kebangkitan itu berakar dari peradaban Iran yang ribuan tahun tidak tumbang hanya karena tokoh-tokohnya diserang.
Dina berujar, kemenangan Iran dalam perangnya dengan Israel juga didukung oleh arah kebijakan luar negerinya yang resisten terhadap hegemoni dan imperialisme Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).
Hal itu tercantum dalam undang-undang dasar Iran yang menolak segala bentuk penindasan, dominasi asing dan imperialisme.
“Kita tahu sejak awal Amerika diposisikan sebagai simbol utama imperialisme global yang harus ditolak,” papar Dinia.
“Sehingga kebijakan luar negeri Iran itu diarahkan untuk mencegah infiltrasi politik, budaya, dan ekonomi, serta penguasaan ekonomi oleh asing,” lanjutnya.
Penilaian Dina mirip dengan mayoritas pengamat lokal, media dan publik di akar rumput yang umumnya memang cenderung memihak Iran, bukan dari telaahan atau kajian akademis terkait kemiliteran.
Mundur dua tahun
Sebaliknya, Kemhan AS atau Pentagon mengeklaim, serangan AS terhadap tiga situs nuklir utama Iran di Fordow, Isahan dan Natanz, Iran pada 22 Juni lalu disebut telah menurunkan program nuklir Iran hingga dua tahun dan menilai, operasi militer AS sudah merasa mencapai tujuannya.
Jubir Pentagon Sean Parnell menyampaikan angka tersebut dalam sebuah pengarahan kepada wartawan dan menambahkan bahwa perkiraan resmi tertundanya program nuklir Uran”mungkin dua tahun”.
“Semua intelijen yang telah kami temui, membuat kami percaya bahwa Iran, khususnya fasilitas-fasilitas itu, telah dihancurkan sepenuhnya,” tambahnya.
Pesawat pengebom AS melakukan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada tanggal 22 Juni dengan menggunakan 14 bom penghancur bunker GBU berbobot (13,6 tpn) dan lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk.
Selama akhir pekan, kepala pengawas nuklir PBB, Rafael Grossi, mengatakan bahwa Iran dapat memproduksi uranium yang diperkaya dalam beberapa bulan, sehingga hal ini menimbulkan keraguan tentang seberapa efektif serangan AS untuk menghancurkan program nuklir Teheran.
Beberapa ahli juga telah memperingatkan bahwa Iran kemungkinan telah memindahkan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi yang mendekati senjata dari situs Fordow serangan dan dapat menyembunyikannya.
Namun, Menhan AS Pete Hegseth mengatakan, ia tidak mengetahui intelijen yang menunjukkan Iran telah memindahkan uraniumnya untuk melindunginya dari serangan AS.
Sedangkan penilaian awal Badan Intelijen AS (CIA) sebelumnya menilai, serangan itu mungkin hanya memperlambat program nuklir Iran selama beberapa bulan, namun, pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa penilaian itu dianggap kurang meyakinkan.
Menlu Iran Abbas Araqchi juga melontarkan penilaian berbeda dari yang disampaikan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan menganggap, serangan terhadap situs nuklir Fordow menyebabkan kerusakan parah.
“Tidak seorang pun tahu persis apa yang terjadi di Fordow. Meski begitu, yang kami ketahui sejauh ini adalah bahwa fasilitas tersebut telah rusak parah ,” kata Araqchi dalam wawancara yang disiarkan oleh CBS News.
Penilaian tentang kalah-menangnya salah satu pihak tergantung dari angle atau sisi mana melihatnya, sumber info, literasi dan kompetensi serta terkadang keberpihakan atau subyektivitas serta kepentingan masing-masing.
Yang penting, dunia sudah terhindar dari eskalasi perang yang jika berlarut-larut bakal menyeret banyak negara dan berpotensi memicu Perang Dunia III yang mencptakan bencana bagi peradaban dan umat manusia. (imbcnews/Theo/sumber diolah: CBS).




