IMBCNEWS — Dukuh Toprayan merupakan kawasan perkampungan yang sudah tua. Dukuh atau kampung ini dikelilingi areal pemakaman. Aneka tananam dan kembang-kembang khas pekuburan yang tumbuh terawat, terasa meneduhkan setiap gundukan tanah makam yang ada.
Bukan pemakaman masyarakat umum warga sekitar saja yang mengelilingi Dukuh Toprayan, namun juga lebih dikenal dengan adanya areal pemakaman raja. Juga, terdapati makam-makam leluhur dan keturunan dari dua Kerajaan, yakni: Surakarta dan Yogyakarta.
Di Dukuh Toprayan, pada masa-masa perjuangan Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia, masih terlihat nyata: ada sebuah rumah berbataskan pagar pemakaman tua dengan ratusan batu nisan; Merupakan, salah satu areal pemakaman umum yang sejak lama sudah menaburi bumi Toprayan. Rumah berbatas pagar makam ini, arsitekturnya ala kampung. Desainnya khas setempat. Serta bangunannya lebih menonjolkan ornamen kayu. Penghuni rumah ini adalah Wirohandjogo beserta keluarga kecilnya.
Ini adalah salah satu rumah di antara puluhan rumah lain di Dukuh Toprayan Kelurahan Imogiri masa itu. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya agak berjauhan.
Pohon-pohon kayu besar, terlihat juga di berbagai tempat. Usianya sudah puluhan tahun. Bahkan, ada juga pohon-pohon yang sepertinya lebih seabad. Rindang dedaunan pohon-pohon seakan menyelimuti situasi sekeliling, membuat keadaan kampung di kaki gugusan Gunung Sewu terasa sejuk, asri dan nyaman sekali pun kerap sunyi.
Keadaan sejuk namun juga sepi, lebih sering teralami warga dukuh yang berada begitu dekat dengan kaki Gugus Perbukitan Gunung Sewu. Hanya waktu-waktu tertentu saja, keramaian menyapa kampung yang lokasinya dikelilingi areal pemakaman ini. Pada malam-malam hari, terlebih bila hujan, terkadang keadaannya begitu mencengkam.
Ada empat areal pemakaman yang begitu dekat, di seputaran Dukuh Toprayan. Terdekat, berbatasan pagar sebelah utara rumah yang dihuni Wirohandjogo. Kemudian, tidak sampai 300 meter sebelah barat (Dukuh Minggiran) terdapat ratusan makam lagi. Ke arah timur, tidak sampai 300 meter demikian pula (Dukuh Cenangan), makam-makam berjejer. Ke arah selatan –masih wilayah Dukuh Toprayan–, ada juga kuburan umum; Ada puluhan gundukan tanah makam di situ.
Dengan banyaknya makam, terbayangkan sudah. Bahwa jumlah penduduk Dukuh Toprayan tidaklah padat. Ada empat makam dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Belum lagi, sekitar satu hingga dua kilometer dari empat areal pemakaman itu, masih banyak makam-makam umum yang keadaannya cukup terawat dan tertata rapi.
Terasa sekali. Dusun Toprayan dan kawasan Imogiri ini sudah ada semenjak beberapa abad lampau. Hanya saja, ketiadaan lampu-lampu penerangan setiap ruas-ruas jalan, pada malam-malam hari, sepertinya sebagai sumbangsih atas sunyi nan mencekamkan suasana.
Sementara itu, hembusan hawa dingin, kadangkala seperti meniupi bagian belakang leher, sehingga bulu-bulu kuduk berdiri dengan sendirinya. Bahkan, ada juga yang merasakan, bulu-bulu roma pada kedua lengan turut berdiri pula, sehingga pori-porinya terlihat menonjol. Lalu, degup jantung pun seperti tiada beraturan mengiringi cengkraman merinding yang datang tiba-tiba…!
Pagi. Tatkala matahari telah menampakkan wujud; Sumur-sumur yang telah tua terlihat juga. Sumur-sumur itu menjadi bagian penting untuk menopang kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari hari warga setempat.
Dari sumur, warga Dukuh Toprayan mendapatkan air bersih; Sehingga kegiatan mandi, cuci, serta keperluan masak-memasak dapat dilakukan warga sehari-sehari. Sumur bahkan dipandang begitu penting. Itu sebabnya, semua rumah di dukuh ini rata-rata dilengkapi sumur.
Sekali pun kadang cengkeraman merinding ada, namun kehidupan warga di kampung ini, keadaannya relatif tenteram dan damai. Budaya Jawa yang penuh tatakrama, tergolong ketat dan terus-menerus terjaga. Lalu, menghormati yang lebih tua atau dituakan, serta menyayangi yang lebih muda, seakan berlangsung secara alamiah mengiring perjalanan detik-detik waktu.
Di Dukuh Toprayan inilah Wirohandjogo melangsungkan hidupnya. Ia bersama isteri dan anak-anak, serta handai tolan, dan warga dukuh lainnya. Merupakan kehidupan yang damai; Akur antar sesama. Ini merupakan sikap yang telah menjadi bagian kehidupan warga, selalu dijaga secara bersama-sama.
Wirohandjogo, bukanlah orang asli Dukuh Toprayan, melainkan pendatang. Ia membeli lahan setapak rumah di pinggiran sawah dan berbatas pagar pemakaman. Ia adalah salah seorang petugas bidang penegakan ketenteraman-ketertiban dari Kesunanan Surakarta. Ia sebagai Jogowesti atau sekarang dikenal dengan Polisi Pamong Praja, pada Distrik Imogiri Surakarta (Solo).
Kedatangan Wirohandjogo ke dukuh ini bersama dengan kakaknya bernama Warnopanuksmo, yang juga memikul tugas dari Kesunanan Surakarta. Lokasi yang berbatasan langsung dengan wilayah Yogyakarta.
Nama Wirohandjogo mau pun Warnopanuksmo diperoleh sesudah keduanya berumah tangga. Dalam adat Jawa, khususnya di wilayah Kesunanan Surakarta, nama kecil biasanya akan dihilangkan setelah seseorang menikah. Oleh karena itu, kakak-beradik sebagai pendatang di Dukuh Toprayan ini tidak diketahui siapa nama kecilnya. (Asyaro G Kahean: BERSAMBUNG…)





