Jogowesti Imogiri (7): Khawatir Anak Lahir Suro

Date:

HAWA DINGIN masih menyertai Wirohandjogo meski telah berada di dalam rumah. Angin dari luar mendesis, menyelinap masuk melalui kisi-kisi bagian atas pintu dan jeldela. Seusai ia mengunci pintu, ia pun hendak masuk ke kamar.

Sang istri mencegah. Seolah minta waktu sejenak, agar suaminya jangan dulu merebahkan diri di tempat tidur.

“Memangnya ada apa?” tanya Wirohandjogo, lantas kembali mendekati sang istri yang masih duduk di kursi meja makan. Sedangkan dari luar rumah, selain terdengar suara serangga dan desis angin, namun juga mulai terdengar titik titik hujan.

“Hemm…, ngene lho,”  tambah sang istri.

“Ngene opo?” tanya Wirohandjogo sembari menatap istrinya yang masih mengelus-elus perut. “Apa wes wayae lahiran?”

“Eh durung…, saiki ‘kan itungane wolong sasi,” ceplos istri.

“Lah dadi ono apa?”

“Hmmm ngene lho….  Aku kok yo dadi roso-roso piye, ngono. Hmmm… Pokoke ojo nganti, anak sing ning wethengku iki wetone Suro,” sebutya.

Sebagai orang Jawa, secara spontaitas muncul juga rasa deg-deg plas di dada walau tak seberapa. Wirohandjogo sangat paham, dalam kepercayaan yang umum dipercaya masyarakat Jawa, kalau anak lahir awal bulan Suro, anak tersebut akan nakal; Ndendeng. Suka mrengkel. Hingga susah diaturnya.

Wirohandjogo, dalam sekejap itu tertegun seusai menarik kursi dan duduk dekat sang istri. Ia sepertinya tidak mau banyak bicara. Sepertinya cukup sudah ia rasakan sendiri tentang was-was istrinya, dengan membenamkan dalam-dalam di hati sendiri.

Sang Jogowesti pun cenderung mengingat-ingat; Dari istrinya ini, telah lahir sebelumnya 4 orang anak. Akan lahir yang kelima. Di mana, anak pertamanya meninggal dunia ketika usianya belum genap 2 tahun.

Pada saat-saat penantian kelahiran kali ini, Wirohandjogo tercenung memikirkan ungkapan was was dan rasa khawatir istrinya. Akan tetapi, secara nurani, ada pengakuan bahwa dirinya bukanlah penguasa yang berkemampuan untuk mengalihkan waktu kelahiran.

Hal yang diakui juga masih ada mungkinan lain, manakala diritualkan dengan ilmu-ilmu tertentu, waktu kelahiran sang jabang bayi akan dapat beralih sesuai dengan permintaan dan niat.

Ya, desis hati Wirohandjogo. Akan tetapi, untuk kali ini, ia terdorong agar istrinya lebih menguatkan sikap pasrah saja. Ia merasa tidak ingin lagi neko-neko.

Untuk kelahiran anak secara normal saja, hampir semua orang di lingkungan Wirohandjogo tinggal masih banyak yang menggunakan jasa dukun beranak. Akankah ia mengatur kelahiran anaknya supaya tidak terlahirkan awal Suro? Uuh… Tak mungkin. Tak mungkin, dan tidak mungkin untuk dilakukan ritual mau pun melalui ilmu dan cara lainnya.

Begitulah agaknya yang sempat mendesis berulang di kalbu Wirohandjogo. Sepertinya, ia lebih mengedapankan rasa sadar diri dengan mengutamakan pasrah kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Hingga beberapa kali ia menelan ludah sendiri, barulah dapat menjawab.

“Sing ngatur wethon iku yo Sing Kuoso kok, Bune…?” cetus Wirohandjogo bersuara kalem, begitu ia merasa mampu menjawab keluhan atas was was dan rasa khawatir sang istri.

Sekali pun terekspesikan sedikit manyun, namun istri sang Jogowesti akhirnya turut pasrah juga. Ya, pasrah. Ia pun masuk kamar dan membaringkan tubuh. Mengiringi mata terpejam, dalam benaknya mendesis; Tiada yang mampu dilakukan kecuali berdoa, memohon keselamatan untuk diri sendiri dan anak dalam kandungan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Gusti Allah.

Ada hal berbeda pada sikap Wirohandjogo yang dirasa-rasa istrinya. Merupakan sikap berbeda ketika menjelang kelahiran anak, setelah anak pertama pasangan ini meninggal dunia tempo hari.

Terasa sekali bedanya. Hanya, istri dari Sang Jogowesti kemudian berusaha untuk memendam rasa was wasnya di kalbu terdalam. Ya, sekuatnya ia redam gejolak batin, untuk tidak protes. Dan untuk sekadar melegakan dada, ia hisap udara dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat. Huuuhh….

Wirohandjogo, kembali menundukkan kepala. Mungkin turut merasakan adanya gejolak aneh di kalbu istrinya. Akan tetapi, ia berusaha memilih diam. Ia jadi terbayang bayang kembali akan putera pertamanya yang meninggal dunia, hingga terselip kembali penyesalan yang nyaris terhilangkan kesibukan berkarir.

Sekali pun orang-orang sekitar bahkan keluarga besar mengatakan, meninggalnya anak itu sudah merupakan takdir dari Yang Mahakuasa. Sepertinya, Wirohandjogo tidak sepaham. Ia  tetap saja beranggapan, meninggalnya putera pertama itu bukanlah sekadar takdir belaka. (Asyaro G Kahean: BERSAMBUNG…)

spot_imgspot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Hasil Cor Beton JUT, Lurah Mekarjati Kecewa PPTK Langsung Tinjau Lokasi

IMBCNews, Karawang | Lurah Yono merasa kecewa. Di Kelurahan...

Barakah di Cupertino

*Catatan 'Cak AT'IMBCNews- Di depan jantung Apple, di Cupertino...

Madu Dari Sydney

*Catatan 'Cak AT'IMBCNews- Ini kisah Peter Gould, desiner muslim...

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

*Catatan 'Cak AT'IMBCNews - Sejak nama Gus Yaqut...