WIROHANDJOGO BERANJAK, lalu melangkah masuk kamar. Ia membaringkan tubuh di samping sang istri. Ingatannya masih tetap mengawang, dan enggan mengakui wafatnya anak pertama sebagai takdir yang bersifat biasa-biasa; Karena menurutnya, ada juga muatan berupa ‘teguran Tuhan’ di balik peristiwa yang terjadi hampir 10 tahun silam.
Sang Jogowesti tetap bersikukuh. Anak pertamanya diambil oleh Yang Mahakuasa; Sebab, dirinya merasakan ada hal yang kurang tepat bersikap terhadap hasil dari sebuah ritual; Sebelum sang anak pertamnya lahir ke dunia fana. Ya, ya. Rasa seperti inilah yang menguat di kalbu Sang Jogowesti!
Lelaki yang lahir sekira dekade akhir abad ke 19 itu, dikabarkan pernah belajar ‘ilmu kejawen’, memang. Kala itu, ia berpikir lumrah lumrah saja.
Anak muda suku Jawa zaman muda Wirihandjogo, mempelajari semacam ilmu klenik, kebatinan, dan sebangsanya, –bisa jadi– merupakan suatu kebanggaan. Bila ilmu itu dihayati mendalam, ditambah rapalan dan tirakat tertentu, hal-hal belum terjadi pun –kalau sesuai tuntunan ilmunya–, dapat terterawangkan; Boleh jadi juga, melaui suatu ritual lalu menerima kabar semacam petunjuk atau wangsit yang cenderung jitu.
Dalam pembuktian lewat ritual berkaitan dengan ilmu ‘ngerti sadurunge winarah’, Wirohandjogo meniatkan dan berusaha mengetahui: kapan kelahiran anak pertamanya bakal terjadi. Saking penginnya, dengan keyakinan penuh, ia melakukan ritual sebagaimana tuntunan ilmu yang telah ia pelajari.
Ada semacam petunjuk yang didapat Wirohandjogo kala melakukan ritual khusus tersebut. Dalam petunjuk itu, tersirat kabar ghaib; Hari dan tanggal (H) serta jam (D) lahirnya anak pertama terlintas nyata di benak.
Ia lantas bergumam, mungkin sekali ia rasa-rasa sebagai bagian dari ‘ngerti sadurunge winarah.’ Lalu, Wirohandjogo pun segera mencatat: H dan D yang diperolehnya melalui ritual tersebut, dituliasnya di belakang pintu rumah. Bila pintu ditutup, siapa pun melihat akan membaca selama ia tidak buta huruf.
Ternyata, H dan D yang didapat dari ritual, tepat juga! Dalam bayangan saat memejamkan mata di samping istri kalbunya kembali mendesis; Ya, saat itu kebetulan sekali, kelahiran sesuai dengan H dan D yang ditulisnya di belakang pintu.
Beberapa saat berikutnya, ia kian didera ragam pertanyaan. Setelah anak mulai belajar melangkah dan berlari, sedang lucu lucunya, mengapa ada teguran yang didatangkan Tuhan?
Di luar kuasa diri Wirohandjogo, anak pertamanya ini tidak berumur panjang. Ada kegembiraan yang dirasanya terpenggal dan meredup seketika, tat kala anaknya meninggal dunia. Ia bahkan kehilangan rasa gemas kepada sang anak, karena pada akhir prosesi adalah mendamaikan mayat di liang lahat.
Peristiwa inilah bagi Wirohandjogo bagaikan pukulan berat di kedalaman jiwa. Ia lantas merasakan, kalau dirinya telah terlanjur angkuh dan sombong. Ia merasa, perlakuannya telah terkhilafkan karena sifat-sifat ujub. Ia pun menyesal, telah menorehkan catatan H dan D di belakang pintu. Efek ujub atau bangga diri di atas catatan ini, lebih dirasanya karena pernah pula menjawab pertanyaan dari orang yang bertanya.
Ingat akan hal tersebut, raut sedih Wirohandjogo pun mengemuka. Oleh sebab itu kiranya, Sang Jogowesti lebih cenderung enggan mengakui kalau meninggalnya anak pertama sebagai takdir Tuhan belaka. Ia lebih cenderung mengatakan, meninggalnya sang anak tersayang adalah bagian teguran dari Yang Mahakuasa atas perilaku dirinya yang sempat pamer, kagum terhadap hasil ritualnya.
Ada sebuah petikan dari desiran kalbu yang selalu dikenang Wirohandjogo sebelum malam ini; Berupa petikan yang terlansir pada ungkapan diri sendiri; ‘Semestinya, rahasia kelahiran yang diperoleh itu hanya disimpan dalam kalbu sendiri saja; Tidak dicatat di belakang pintu. Tidak perlu dipamer-pamerkan semacam yang ada di catatan itu.’
Berdasarkan renunagannya yang terungkap, agaknya, yang lebih diyakini Sang Jogowesti atas nasib anak pertamanya, lebih bermuatan pada salah satu ‘cara Tuhan’ menegur dirinya.
Ya…! Wirohandjogo lebih merasakan telah berbuat sesuatu yang bernilai ujub diri; Sekali pun mungkin yang dilakukannya sekadar mencatatkan H dan D dari hasil ritualnya di belakang pintu…! Apa lagi, sempat juga diceritakan kepada sahabat mau pun orang-orang terdekat yang ia percaya.
Sebab-sebab punya pengalaman demikian, tatkala ada was-was dan rasa khawatir dari sang istri yang hendak melahirkan anak kelima kali, Wirohandjogo pun lebih cenderung diam dan diam. Ya, ia lebih memilih diam. Bahkan, ia lebih bersikap pasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Serasa ia enggan mengungkap. Sekali pun dimungkinkan, dirinya telah mengerti hitungan dan telah memperkirakan: kapan H dan D kelahiran anak yang kini di dalam kandungan sang istri bakal terjadi.
Senyatanya, Wirohandjogo lebih menonjolkan sikap pasrah akan kelahiran anaknya yang kelima. Mungkin juga, yang terlintas di kalbu, cukuplah pengalaman pahit terjadi sekali seumur hidup; Tidak akan membawa manfaat bernilai lebih, bila mengulang kesalahan yang sama…! ((Asyaro G Kahean: BERSAMBUNG…)





