IMBCNEWS – JAKARTA – INOVASI terus dilakukan China seolah tanpa henti, kini negara tirai bambu itu menciptakan kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan penggunanya membayar di toko hanya dengan menatap kode QR dan mengucapkan perintah suara.
AFP seperti dilansir Kompas.com menyebutkan, “Keunggulan China terlihat jelas,” ujar CEO Rokid, Misa Zhu dalam peluncuran produk di Hangzhou, Rabu (3/12).
“Ekosistem dan rantai pasok semuanya tersedia di China, dan kami memproduksinya dalam jumlah banyak,” katanya.
Di dalam negeri, perusahaan China memiliki keunggulan besar karena layanan Meta diblokir, sehingga “potensial pasar wearable tech” di negeri berpenduduk 1,41 miliar jiwa itu terbuka lebar.
Menurut IDC, penjualan kacamata pintar di China diprediksi tumbuh hingga 116 persen secara tahunan pada 2025.
Kehidupan masyarakat yang semakin terdigitalisasi, termasuk pembayaran hingga layanan transportasi via ponsel menjadi pendorong utama.
Zhu menegaskan bahwa infrastruktur digital China telah jauh lebih maju dibandingkan kawasan Barat. “Kode pembayaran QR di toko sudah lebih berkembang daripada di Eropa dan Amerika Serikat,” ujarnya.
Diramaikan fabrikan besar
Analis Counterpoint, Flora Tang, mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan besar seperti Xiaomi, RayNeo, Thunderobot, dan Kopin turut meramaikan pasar.
Xiaomi bahkan disebut sebagai “kuda hitam” karena kacamata AI debutnya menjadi produk smart glasses terlaris nomor tiga pada paruh pertama 2025, meski hanya dijual sekitar satu minggu. Rokid juga mencuri perhatian.
Perusahaan itu mengumpulkan lebih dari 4 juta dollar AS (sekitar Rp 66 miliar) lewat kampanye crowdfunding di Kickstarter baru-baru ini.
Zhu mengungkapkan Rokid mengamati dan belajar dari perusahaan global besar, namun juga menyasar pasar domestik dan luar negeri sekaligus dengan strategi berbeda.
ChatGPT Rokid memungkinkan pengguna mengakses aplikasi China saat berada di China, dan aplikasi internasional ketika berada di luar negeri.
Berbeda dengan Meta yang membatasi aplikasi yang dapat digunakan. Selain itu, Rokid tidak mengunci produk pada satu model AI.
“Kami sangat terbuka menggunakan OpenAI, dan juga dapat terhubung dengan Llama, Gemini, dan Grok,” kata Zhu. “Itulah mengapa banyak orang menyukai kami.” Baca Dalam demonstrasi di Hangzhou, Rokid juga menampilkan fitur terjemahan simultan dengan teks Inggris fosfor hijau yang muncul di bagian dalam lensa saat seorang pegawai berbicara dalam bahasa Mandarin.
Meski antusiasme meningkat, adopsi massal masih membutuhkan waktu. Penulis PCMag, Will Greenwald, menilai pengalaman pengguna harus ditingkatkan.
“Saya rasa belum ada yang benar-benar membuat pengalaman itu mulus,” ujarnya. Isu privasi juga menjadi perhatian besar.
Kacamata yang diam-diam dapat merekam hampir sepanjang waktu menimbulkan potensi masalah regulasi, meski tantangan membayangi, pelaku industri tetap optimistis.
Zhu menutup dengan optimisme bahwa kacamata AI akan menjadi perangkat utama masyarakat ke depan.
“Hari ini, kacamata AI kami masih menjadi pelengkap ponsel, namun dalam waktu dekat, ponsel justru akan menjadi aksesori kacamata, ” ujarnya.
Di era perlombaan teknologi digital dan AI saat ini, hanya negara yang terus berinovasi yang bakal mengambil keuntungan sebesar-besarnya. (imbcnews/nanangs/sumber diolah: AFP/Kompas.com/ns)




