Jakarta-IMBCNews – Sikap kehati-hatian di seluruh sektor menghadapi tingginya ketidakpastian global sangat penting, demikian disampaikan Ketua Komisi XI DPR RI Dr. Mukhamad Misbakhun, Sabtu (20/12).
”Sekarang faktor ketidakpastian menjadi sangat dominan. Jika dulu banyak variabel yang bersifat tetap, kini unsur ketidakpastian sangat banyak dan rata-rata berada di luar kendali pengambil keputusan. Kita harus hidup berdampingan dengan ketidakpastian tersebut,” kata Misbahkun pada seminar Kafegama bertajuk Outlook 2026: Tantangan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Menuju Indonesia Maju di Jakarta.
Misbakhun juga menyoroti target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang kerap dianggap utopis. Menurut dia, Indonesia justru kehilangan kepercayaan diri terhadap target tersebut. ”Di era orde baru, pertumbuhan 8 persen hal yang biasa. Setelah reformasi, angka itu tidak pernah tercapai. Kita perlu mengukur kembali nilai-nilai pertumbuhan jangka panjang,” katanya.
Dia menambahkan, upaya keluar dari middle income trap menjadi kunci percepatan ekonomi, meski hanya sedikit negara yang berhasil melakukannya, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok. Menurut Misbakhun, Tiongkok memiliki profil kemiskinan yang hampir sama dengan Indonesia pada era 1980-an, namun mampu keluar dari jebakan tersebut.
”Di era Presiden Prabowo, target pertumbuhan menuju 8 persen perlu didukung dengan mengembalikan industrialisasi, karena sektor ini mampu mengangkat derajat pertumbuhan ekonomi secara signifikan,” ungkapnya.
Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada Achmad Akbar Susamto PhD, secara obyektif tingkat pertumbuhan ekonomi 8 persen masih sangat jauh.
“Pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1960 hanya 4 kali mencapai 8 persen, bahkan dalam 30 tahun terakhir Indonesia tidak pernah mencapai pertumbuhan 7 persen,” ujar Akbar.
Direktur Human Capital & Compliance BNI Munadi Herlambang mengatakan, kondisi global saat ini penuh tantangan, terutama akibat perubahan geopolitik yang berlangsung cepat.
Meski demikian, BNI menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi pemimpin di industri perbankan nasional. ”Posisi kita sekarang memang penuh tantangan, termasuk perubahan geopolitik yang cukup cepat. Namun tentunya BNI tetap menjadi leader di industri perbankan Indonesia,” ujar Munadi.
Ketua Umum PP Kafegama Dr. Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, Kafegama memiliki 12 pengurus daerah dengan total anggota sekitar 21 ribu alumni FEB UGM yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia.
Selain itu, terdapat satu cabang Kafegama di luar negeri yang diketuai Johari Oratmangun. ”Tensi geopolitik dan konflik regional masih menjadi black swan. Tekanan inflasi global diperkirakan mulai mereda meski penurunannya berlangsung lambat dan bertahap,” tuturnya. (*)





