IMBCNEWS|Depok – Pernah merasa nggak, kalau HP kita itu mirip panggung sulap?
Satu minggu ini, jempol kita capek banget. Dari urusan ancaman ledakan bom yang bikin ngeri, sampai gosip perselingkuhan artis yang “nggak habis-habis“.
Kita sibuk menghujat, menganalisis, sampai lupa waktu. Tapi sadar nggak, di saat kita lagi asyik ngetik komentar pedas, ada sesuatu yang jauh lebih besar lagi “dihabisi” di Sumatera?
Hutan kita digunduli, lahan disikat, tapi anehnya, beritanya nggak pernah jadi trending.
Algoritma: Si Makcomblang yang Pilih Kasih
Kenapa berita gosip lebih cepat masuk ke beranda kita daripada berita hutan yang gundul? Jawabannya: Algoritma.
Si sistem pintar ini tahu kalau kita lebih suka “makanan manis” (drama) daripada “obat pahit” (isu lingkungan).
Masalahnya, algoritma ini nggak punya moral. Dia cuma peduli soal klik. Efek sampingnya? Pihak-pihak yang punya kepentingan jadi punya celah.
Mereka tahu betul, selama publik dikasih “mainan” berupa skandal atau ketakutan, mereka bisa bebas buka lahan tanpa ada yang protes.
Kita dibuat sibuk bertengkar di medsos, sementara mereka sibuk angkut kayu.
Antara “Settingan” dan Hilang Kepercayaan
Sekarang kita sampai di titik yang lucu sekaligus sedih: saking seringnya dikasih berita yang “kebetulan barengan“, kita jadi susah percaya sama institusi sendiri.
Muncul kejadian bom, kita mikir: “Ini beneran atau pengalihan isu lahan, ya?”
Ketidakpercayaan ini bahaya. Kita jadi kayak orang buta di tengah keramaian. Kita nggak tahu lagi mana ancaman beneran, dan mana yang cuma “petasan” biar kita nggak menoleh ke arah hutan.
Alam Nggak Bisa “Curhat” di Twitter
Pernah dengar istilah “alam yang putus asa“? Itu bukan judul lagu galau. Itu kondisi di mana alam sudah capek diperas tapi nggak pernah diurus.
Hutan Sumatera itu ibarat benteng. Kalau bentengnya dihancurkan demi izin-izin tambang atau sawit, alam nggak akan protes lewat utas di Twitter.
Dia protesnya pakai banjir bandang atau tanah longsor. Masalahnya, alam nggak kenal kompromi politik. Dia nggak peduli siapa yang lagi viral; kalau sudah waktunya “meledak“, ya meledak saja.
Jadi, Gimana?
Kita nggak perlu jadi ahli politik buat paham kalau perhatian kita lagi dicuri. Nggak salah kok kepo sama berita terkini, tapi jangan sampai jempol kita lebih cepat bereaksi buat urusan privat orang lain ketimbang urusan perut bumi kita sendiri.
Jangan sampai kita baru sadar saat layar HP kita masih muter berita gosip, tapi air banjir sudah masuk ke ruang tamu. Saat itu, mau viral atau nggak, sudah nggak ada bedanya lagi.(*)





