Mimpi Besar Lewat Seduhan Kopi Adang

Date:

BUKITTINGGI – Harga kaki lima, rasa bintang lima. Kalimat sederhana itu menjadi motor penggerak bagi M Arsyad, pria 40 tahun asal Tarok, Kota Bukittinggi, yang akrab disapa Da Ar.

Dengan sepeda modifikasi dan kotak besi yang menjadi etalase kecil usahanya, Arsyad saban hari menjual kopi seduh di depan Bahri Mart, Jalan Parit Putus, sudut kota yang kini menjadi saksi perjuangannya mengejar mimpi.

Arsyad bukan sekadar penjual kopi Adang pinggir jalan. Ia adalah sosok pekerja keras yang tengah menapaki langkah demi langkah untuk mewujudkan impian besarnya: memiliki coffee shop sendiri.

Berawal dari Kebiasaan Minum Kopi
Saat ditemui media ini, Arsyad berkisah bahwa ide menjual kopi berawal dari kebiasaannya minum kopi ketika masih menjadi pedagang aksesori lintas kota. Di sela istirahat bersama rekan-rekannya, ia mulai tertarik pada dunia kopi.

“Dulu saya suka minum kopi juga. Terus kepikiran buat jualan kopi di kampung. Jadilah jualan kopi Adang,” ujar Arsyad, Selasa (18/11/2025).

Ia pun mantap mengubah sepeda miliknya menjadi gerobak mini dengan tambahan box di bagian depan. Sudah sebulan ini Arsyad menjalani rutinitas berjualan dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Dari usaha itu, ia bisa mengantongi pemasukan rata-rata Rp200–400 ribu per hari.

IMG 20251116 WA0038 1 Mimpi Besar Lewat Seduhan Kopi Adang

Menu Terjangkau, Rasa Tak Diragukan
Kopi Susu Gula Aren, Butterscotch, Maca, hingga Coklat menjadi menu andalan Arsyad. Meski dijual di pinggir jalan, racikan kopi ala Da Ar kerap membuat pembeli kembali lagi.

Hanya dengan Rp10 ribuan, pelanggan sudah bisa menikmati minuman dingin ala Kopi Adang tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.

Popularitas Arsyad belakangan meningkat seiring aktivitasnya di Facebook, Instagram, dan TikTok. Meski mengaku jarang membuat konten, beberapa unggahannya yang mengikuti tren justru mengundang perhatian warganet.

“Alhamdulillah (ramai) dari sosmed. Sebenarnya jarang bikin konten, sesekali aja,” katanya.

Tak sedikit pelanggan yang datang setelah melihat video Arsyad di dunia maya. Berkat media sosial, dagangannya semakin dikenal dan penjualan pun meningkat.

Perjalanan Panjang Penuh Perjuangan
Sebelum menjadi penjual kopi Adang, Arsyad pernah menjalani berbagai pekerjaan, sopir angkot, pedagang keliling, hingga sempat bekerja di Pertamina. Namun semua ia tinggalkan karena merasa tidak cocok dan terlalu menguras tenaga.

“Kerjanya capek banget. Jadi lebih milih jualan aja,” tuturnya.

Kini, dengan tiga anak yang harus dinafkahi, Arsyad memilih jalur wirausaha sebagai pintu menuju hidup yang lebih baik.

Mimpi Membuka Coffee Shop Sendiri
Meski berjualan dengan fasilitas sederhana, Arsyad tak pernah berhenti bermimpi. Ia berharap suatu saat nanti bisa memiliki tempat berjualan yang lebih layak, sebuah coffee shop kecil hasil keringat dan kerja kerasnya.

“Pengen banget punya kafe sendiri. Mudah-mudahan bisa terwujud. Sekarang kerja keras dulu,” ujarnya menutup pembicaraan.

Di balik sepeda sederhana yang ia kayuh setiap hari, tersimpan tekad kuat seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan. Dan di tiap gelas Kopi Adang yang diseduhnya, Arsyad sedang menulis kisah bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang paling sederhana. (**)

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Di Australia Anak di bawah 16 Tahun DIlarang Buka Medsos

IMBCNEWS, JAKARTA - AUSTRALIA  menjadi negara pertama yang membatasi...

Gaya Kepemimpinan yang Sederhana dan Merakyat di Ranah Perbankan

BUKITTINGGI — Di balik dinamika layanan perbankan yang terus...

Munas Iluni FIB UI 2025: Dari Arkeologi hingga Sastra Arab, Tiga Kandidat Siap Pimpin Alumni

IMBCNEWS|DEPOK – Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas...

Raih Dua Penghargaan HARKODIA 2025 Kemenag Perkuat Kolaborasi dengan KPK

Yogyakarta-IMBCNews - Kementerian Agama mencatat dua capaian penting pada...