BUKITTINGGI–AGAM — Derap kuda, sorak penonton, dan semangat kebersamaan akan berpadu di Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang.
Pacu Kuda Bukittinggi–Agam Open Race 2025 yang digelar besok, Minggu (28/12), bukan sekadar adu cepat kuda terbaik, tetapi menjelma menjadi alek nagari bernuansa empati untuk sesama.
Wakil Ketua Pelaksana kegiatan, Dedi Asmar, menegaskan bahwa ajang tahunan ini mengusung misi lebih besar dari sekadar olahraga tradisional.
Di sela-sela kesibukannya memastikan kesiapan arena pada Sabtu malam (27/12/2025), Dedi menyampaikan bahwa pacuan kuda tahun ini dirancang sebagai wadah penggalangan dana bagi korban bencana di Sumatera Barat.
“Melalui budaya dan kearifan lokal pacuan kuda, kita ingin memberi dampak nyata,” ujar Dedi Asmar yang juga menjabat Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Agam.
Menurutnya, acara ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga sarana penggalangan donasi untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di ranah Minang.
Sebagai bentuk adaptasi zaman, panitia menyediakan donasi digital melalui QRIS yang bekerja sama dengan Baznas Kota Bukittinggi.
Dengan begitu, setiap penonton dapat ikut berpartisipasi menyalurkan kepedulian, cukup lewat ponsel, di tengah gemuruh pacuan.
Dedi menambahkan, Pacu Kuda Bukittinggi–Agam Open Race 2025 diharapkan menjadi penutup manis penghujung tahun, sekaligus simbol solidaritas antara Kota Bukittinggi dan Nagari Gaduik, Kabupaten Agam.
“Ini alek nagari bersama. Kita ingin sukses sebagai perhelatan budaya, sekaligus bermakna sebagai gerakan kemanusiaan,” katanya.
Tak berlebihan jika Gelanggang Bukit Ambacang disebut ikon. Berada tepat di batas wilayah Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, arena ini merupakan gelanggang pacuan kuda paling populer dan membanggakan di Sumatera Barat.
Berbagai turnamen bergengsi kerap digelar di sini, termasuk “Pacu Bugih”, pacuan kuda unik yang telah lama menjadi pesta rakyat dan magnet pertemuan masyarakat lintas daerah.
Selain nilai budaya dan sosial, dampak ekonomi pun tak luput dari perhatian. Ribuan pengunjung diperkirakan memadati lokasi, memberi angin segar bagi pelaku UMKM, pedagang tradisional, hingga sektor pariwisata lokal.
Dengan persiapan matang dan semangat gotong royong, Pacu Kuda Bukittinggi–Agam Open Race 2025 siap menjadi momentum kebangkitan, bukan hanya bagi pariwisata dan ekonomi lokal, tetapi juga dalam memperkuat identitas budaya Minangkabau yang peduli, tangguh, dan berjiwa sosial. (Alex. Jr)





