BUKITTINGGI — Sebuah pesan berantai bernuansa keagamaan kembali viral di berbagai platform media sosial dan grup percakapan pada Rabu (3/12/2025).
Pesan tersebut berisi ajakan kewaspadaan terhadap tanggal 26 setiap bulan, dengan mencantumkan sejumlah peristiwa bencana di Indonesia maupun luar negeri yang kebetulan terjadi pada tanggal yang sama.
Dalam pesan itu, pengirim menyebutkan rentetan kejadian, mulai dari Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, gempa Yogyakarta 26 Mei 2006, letusan Gunung Merapi 26 Oktober 2010, hingga hujan ekstrem dan banjir di Aceh–Sumut–Sumbar pada 26 November 2025.
Pesan tersebut kemudian mengaitkan deretan tanggal itu dengan ayat Al-Qur’an Juz 26 serta imbauan untuk memperbanyak ibadah.
Pesan yang tersebar luas itu juga memuat perhitungan waktu akhirat, ajakan untuk merenungi singkatnya usia manusia, serta peringatan agar tidak meninggalkan salat.
Di akhir teks, pengirim mengajak penerima untuk menyebarkan kembali pesan itu ke beberapa grup.
Meski banyak dibagikan, sejumlah pakar kebencanaan mengingatkan bahwa kesamaan tanggal bukanlah penentu terjadinya bencana.
“Fenomena seperti ini dikenal sebagai confirmation bias. Kita cenderung mengingat peristiwa yang kebetulan sama tanggalnya, sementara ribuan bencana lain terjadi di tanggal berbeda,” kata Patria Moeska Chaniago, tokoh masyarakat Minang di Jakarta ketika dimintai tanggapan.
“BMKG juga berulang kali menegaskan bahwa gempa bumi, cuaca ekstrem, maupun erupsi gunung berapi tidak terkait dengan pola tanggal. Faktor geologi dan meteorologi adalah penyebab utamanya,” tambah Patria yang juga pengurus Keluarga Besar Rang Chaniago (KBRC) Jabodetabek.
Kemenag: Pesan Keagamaan Baik, Namun Jangan Disertai Klaim Tak Terverifikasi
Beberapa tokoh agama menilai bahwa ajakan memperbanyak ibadah adalah pesan positif. Namun mereka mengingatkan agar penyebaran konten keagamaan tidak dicampur dengan klaim yang tidak berdasar.
“Motivasi spiritual itu baik, tetapi umat harus berhati-hati saat menghubungkan ayat Al-Qur’an dengan informasi yang belum jelas sumbernya. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menyampaikan kabar,” ujar seorang ustaz di Bukittinggi.
Pakar literasi digital mengimbau masyarakat untuk memverifikasi kebenaran pesan sebelum menyebarkannya.
“Pesan berantai sering kali dikemas dengan sentuhan religius atau dramatis agar terasa meyakinkan. Sebelum meng-forward, tanyakan dulu: apakah faktanya benar? siapa sumbernya? apa dampaknya jika pesan itu tidak akurat?” kata mereka.
Meski demikian, pesan viral tersebut tetap menjadi refleksi bahwa banyak warga tengah membutuhkan ketenangan batin di tengah berbagai bencana yang terjadi di tanah air. **




