“Hingga saat ini, korban belum ditemukan, dan pencarian masih terus dilakukan, termasuk dengan upacara adat,” ucap Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Bursel Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) M. Agung Gumilar.
Kapolres menjelaskan, bahwa insiden tragis ini terjadi sekira pukul 22.00 WIT. Saat itu, Fiki bersama ayahnya, Sarfin Bantam, dan seorang temannya, Onyong Bone (11), pergi ke pantai untuk mencari ikan dengan metode bameti (menangkap ikan saat air surut).
Dalam perjalanan pulang, ayah korban meminta mereka untuk tidak singgah lagi. Namun, Fiki dan Onyong justru terlihat bergerak ke arah Air Tanani. Tak lama kemudian, Onyong berteriak dan lari ketakutan, sementara Fiki sempat berteriak, “Bapa, tolong!” sebelum ia ditarik ke dalam air.
Sementara itu, Sarfin yang tiba di lokasi hanya menemukan senter kepala milik anaknya di atas pasir. Ia melihat Fiki masih muncul di permukaan air, tetapi kemudian tubuhnya ditarik masuk oleh sesuatu yang diduga seekor buaya.
Sekitar 10 menit, Sarfin berusaha memanggil dan berdoa agar anaknya dilepaskan, namun hanya gelembung air yang terlihat hingga akhirnya menghilang di dekat pohon sagu.
Setelah itu, Sarfin kembali ke rumah untuk memberi tahu istrinya, Siti Hajar Nurlatu, sebelum mereka bersama warga kembali ke lokasi untuk melakukan pencarian.
Keesokan harinya, Minggu, 9 Maret 2025, pukul 10.30 WIT, pihak Kepolisian turun ke lokasi, dipimpin oleh Kapolsek Namrole Ajun Komisaris Polisi (AKP) Bobby Harta Setiadi bersama Brigadir Kepala (Bripka) Gatot (Bhabinkamtibmas Desa Oki Baru) dan dua anggota lainnya.
Selain pencarian oleh pihak Kepolisian dan warga, upacara adat babeto (berdoa) juga dilakukan oleh keluarga besar marga Latbual sebagai pemilik petuanan Air Tanani. Prosesi dipimpin oleh Abu Latbual dan Arsad Latbual dengan harapan korban bisa ditemukan. Namun, hingga saat ini, hasilnya masih nihil.
“Pencarian akan terus dilanjutkan dengan melibatkan keluarga korban, pemerintah desa, dan masyarakat setempat. Saat ini, Bhabinkamtibmas, ayah korban, serta penjabat kepala desa dan beberapa staf masih berada di lokasi kejadian untuk memantau perkembangan,” kata Agung.
Gumilar menegaskan, kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat sekitar perairan Air Tanani dan daerah lainnya di Bursel, untuk lebih waspada saat beraktivitas di perairan, terutama di malam hari. “Keberadaan buaya di wilayah tersebut perlu diantisipasi demi keselamatan warga,” tutur pria dengan dua melati emas dipundak ini.
Pihak berwenang dan masyarakat berharap korban segera ditemukan, baik dalam kondisi selamat maupun tidak untuk memberikan kepastian bagi keluarga Bantam/ Nurlatu yang berduka.