Jakarta-IMBCNews – Sastra dan gastronomi bisa menjadi instrumen diplomasi budaya Indonesia, demikian disampaikan Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D Retno Astuti di Jakarta, Selasa (23/12).
Endah menilai, dua bidang tersebut efektif menjangkau publik global melalui pengalaman emosional dan keseharian manusia. “Keduanya memiliki kekuatan unik yang menyentuh sisi emosional dan juga mengenai keseharian manusia,” ujarnya dalam Gelar Wicara bertema ‘Dari Kata ke Rasa: Diplomasi Budaya Indonesia Melalui Sastra dan Gastronomi’.
Ia menyebut, kekuatan tersebut menjadikan diplomasi budaya bersifat halus dan berkelanjutan. “Menjadikan sastra dan gastronomi ini medium strategis untuk memperkuat diplomasi budaya yang halus dan juga berkelanjutan,” kata Endah seraya menambahkan pendekatan ini relevan menghadapi persaingan global.
Endah menyatakan diplomasi budaya merupakan amanat konstitusi yang harus dijalankan aktif oleh negara. “Negara memajukan peradaban nasional Indonesia di tengah peradaban dunia,” ucap Endah.
Dia menilai kebudayaan berperan sebagai soft power nasional dalam diplomasi internasional. “Kebudayaan Indonesia menjadi kekuatan identitas nasional dan soft power,” ujar Endah.
Hal yang sama disampaikan Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Manusia, Kamapradipta Isnomo. Ia menegaskan, sastra dan gastronomi merupakan roh identitas bangsa Indonesia.
“Dua hal tersebut adalah roh daripada suatu bangsa, dari suatu identitas budaya suatu bangsa,” ujar Kamapradipta. Ia menilai sastra merekam sejarah, karakter, dan sosiologi kebangsaan.
“Gastronomi itu merupakan cermin dari temperamen dan emosi dari suatu nationhood,” kata Kamapradipta. Menurutnya, sajian kuliner menunjukkan peradaban bangsa mengelola sumber daya alam. (*)





