IMBCNEWS – JAKARTA – DI TENGAH seruan perdamaian yang terus digaungkan, konflik yang merenggut ribuan nyawa di sejumlah kawasan mulai dari Timur Tengah, Asia Selatan sampai Eropa Timur terus berkecamuk sepanjang 2025.
AFP melaporkan (2512), tahun 2025 masih menjadi periode penuh gejolak dalam dinamika geopolitik global, ditandai pecahnya sejumlah perang dan konflik bersenjata di berbagai kawasan.
1.Perang Iran-Israel
Perang Iran – Israel pecah pada 13 Juni 2025 dan bayangan konflik masih berlangsung hingga hari ini.
Pertempuran bermula ketika Israel melancarkan serangan udara dan operasi intelijen bersandi: “Rising Lion” bertujuan untuk melumpuhkan senjata nuklir Iran.
Serangan Israel tersebut juga menewaskan para perwira tinggi militer Iran dan sejumlah ilmuwan nuklir.
Iran pun langsung membalas serangan Israel dengan serentetan serangan rudal. Setelah itu, kedua belah pihak saling jual-beli serangan selama lebih dari sepekan.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. AS melibatkan diri dalam perang dengan melancarkan serangan udara pada 22 Juni dini hari ke tiga situs nuklir Iran.
Situasi semakin rumit, dan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Iran lebih keras jika tidak mau menyerah.
Pada 24 Juni, Trump mengumumkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata yang kemudian dikonfirmasi oleh kedua belah pihak.
Perang ini menewaskan 1.190 orang dan melukai lebih dari 4.000 orang di Iran.
Selain itu, serangan Israel juga membunuh sejumlah tokoh penting Iran. Di sisi lain, serangan Iran menewaskan 28 orang dan menyebabkan 3.238 warga Israel dirawat di rumah sakit karena luka-luka.
2.Perang India-Pakistan
Perang kedua negara bertetangga di Asia Selatan yang terbaru pecah pada 7 Mei. Konflik berlangsung cukup Mei. Konflik ini berlangsung cukup singkat, kedua belah pihak sepakat berhenti melepaskan serangan pada 10 Mei.
Pemicu krisis berawal dari serangan teroris 22 April di Pahalgam, Kashmir yang dikelola India, dan menewaskan 26 turis. India menuding ada peran Pakistan dan langsung meluncurkan serangan pada 7 Mei terhadap sembilan lokasi di Pakistan.
Laporan menyebut India menggunakan amunisi artileri berpemandu presisi, munisi yang dijatuhkan drone, serta senjata jarak jauh termasuk rudal jelajah.
Konflik juga berlangsung di udara, di mana jet tempur Pakistan buatan China J-10C menembak jatuh dua Rafale (eks-Peracis), dua pesawat eks-Uni Soviet (dua MiG-29) dan satu SuKhoi SU-30 buatan Rusia.
Pakistan disebut meluncurkan gelombang serangan drone. Sedangkan India mengklaim sistem pertahanan udara dan misilnya mampu menahan sebagian besar serangan tersebut.
Sementara itu, pertempuran darat di sepanjang garis kontrol di Kashmir sangat mematikan. Jual-beli tembakan senjata ringan, mortir, dan artileri menyebabkan banyak korban.
Selama perang, dan total kematian kedua pihak diperkirakan sekitar 200 jiwa. Kedua negara akhirnya sepakat menghentikan konflik melalui gencatan senjata pada 10 Mei 2025 setelah diplomasi intens yang terutama melibatkan AS.
3.Konflik Thailand-Kamboja
Dua negara tetangga Indonesia, yakni Thailand dan Kamboja, kembali jual beli serangan pada Juli. Konflik pecah akibat sengketa perbatasan lama, terutama di sekitar kawasan segitiga zamrud dan kompleks candi kuno Preah Vihear.
Sebelum pecah menjadi bentrokan bersenjata, ketegangan sudah meningkat sejak Mei hingga Juni 2025. Kedua negara saling menuduh melakukan pelanggaran di wilayah perbatasan yang statusnya masih diperdebatkan sejak era kolonial.
Bentrok terbuka pecah pada 24–28 Juli 2025 dengan serangan roket dan serangan udara, menewaskan puluhan orang serta memaksa lebih dari 300.000 warga sipil mengungsi.
Upaya meredakan konflik berlanjut dengan penandatanganan Kesepakatan Damai Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025, meski persoalan mendasar belum terselesaikan.
Akan tetapi, pertemupan perbatasan kembali terjadi sejak 8 Desember 2025, ditandai serangan udara Thailand dan respons militer Kamboja atas klaim pelanggaran kedaulatan.
Gelombang kekerasan terbaru kembali menimbulkan korban jiwa dan pengungsian massal, sekaligus memicu desakan internasional agar kedua negara menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
- Perang Israel-Hamas
Meski bukan konflik terbaru, perang antara Israel dan Hamas yang berlangsung di Gaza sejak dua tahun lalu berhenti pada tahun ini.
Perang Israel-Hamas bermula dari serangan mendadak Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023. Israel kemudian menyatakan perang dan melancarkan operasi militer besar-besaran melalui serangan udara dan darat ke Jalur Gaza dengan tujuan melumpuhkan kekuatan militer dan pemerintahan Hamas serta membebaskan seluruh sandera.
Operasi militer Israel menyebabkan kehancuran masif di Gaza, dengan puluhan ribu warga Palestina tewas hingga akhir 2025 dan sebagian besar infrastruktur serta permukiman mengalami kerusakan berat atau hancur.
Konflik ini memicu krisis kemanusiaan parah, pengungsian massal, kekurangan pangan, air bersih, dan layanan medis, serta peringatan potensi kelaparan dari PBB.
Gencatan senjata sementara pada November 2023 memungkinkan pertukaran lebih dari 100 sandera dengan tahanan Palestina, disusul kesepakatan lain pada Oktober 2025 yang membebaskan sisa sandera dan memberlakukan gencatan senjata.
Perang juga meluas di negara lain, seperti bentrokan dengan Hizbullah, serangan Houthi, serta saling serang Israel-Iran, meski gencatan senjata Israel-Hizbullah tercapai pada November 2025.
Hingga akhir 2025, gencatan senjata masih berlaku di Gaza dalam rencana damai yang dimediasi AS, meski negosiasi lanjutan terus berlangsung dan insiden sporadis masih terjadi.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan jumlah korban tewas akibat perang sedikitnya 70.100 orang. Di Israel, korban tewas sekitar 1.200 orang.
Selain kelima daftar tersebut, masih ada perang yang masih berlanjut sampai detik ini.
- Perang Rusia-Ukraina
Perang Rusaia – Ukraina adalah salah satu konflik militer terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
Sebelum pecah menjadi skala yang besar seperti sekarang ini, konflik sebenarnya bermula pada 2014 ketika Rusia mencaplok Crimea dan mendukung kelompok separatis di wilayah Ukraina timur, Donetsk dan Luhansk.
Pada 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan Operasi Militer Khusus dengan melancarkan serangan besar-besaran dari utara, timur, dan selatan.
Meskipun Rusia gagal merebut ibu kota Kyiv di awal perang, Moskwa berhasil menguasai sebagian besar wilayah di selatan dan timur. Hingga akhir 2025, perang telah berubah menjadi konflik masih terus berlangusng dan berkembang menjadi perang urat saraf dan adu daya tahan. Rusia menguasai sekitar 19,2 persen wilayah Ukraina.
Sepanjang 2025, Rusia melakukan kemajuan bertahap di wilayah timur, termasuk jatuhnya kota strategis seperti Siversk dan Pokrovsk. Rusia meluncurkan ribuan drone setiap bulannya ke infrastruktur energi Ukraina, sebaliknya
Ukraina menargetkan kilang minyak dan kapal-kapal tanker Rusia di Laut Hitam untuk memotong pendapatan perang Moskwa.
Tahun 2025 mencatat keterlibatan aktif pasukan Korea Utara yang membantu Rusia merebut kembali wilayah Kursk dari kendali Ukraina.
Sementara itu, Ukraina tetap bergantung pada bantuan militer dari AS dan Uni Eropa. AS berulangkali meminta agar Rusia dan Ukraina menghentikan perang.
Presiden AS Donakd Trump pun bahkan mengusulkan rencana perdamaian 12 poin yang masih belum teralisasi.
Semoga tahun 2026 menandai dibukanya lembaran baru menuju penyelesaian seluruh konfik yang masih tersisa pada peghujung tahun ini. (imbcnews/nanangs/sumber diolah: AFP/kompas.com)





