BUKITTINGGI — Pemerintah Kota Bukittinggi tancap gas di awal tahun. Tak pakai basa-basi, ratusan keluarga langsung “disuntik” bantuan sosial berupa sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH) triwulan I 2026, Rabu (1/4/2026).
Sebanyak 394 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjadi sasaran, tersebar di tiga kecamatan: Mandiangin Koto Selayan, Guguk Panjang, dan Aur Birugo Tigo Baleh.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Di balik angka Rp281.550.000 yang digelontorkan, ada pesan tegas, yaitu negara hadir dan harus terasa.
Kepala Dinas Sosial Bukittinggi, Roza Wahyuni, mengungkapkan bahwa bantuan ini dirancang untuk menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan, sesuai data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).
“Ini bukan bagi-bagi biasa. Ini intervensi nyata untuk menjaga dapur tetap ngebul,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menekankan bahwa bantuan tersebut adalah tameng sosial bagi kelompok miskin dan rentan.
Ia mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan secara bijak. “Gunakan untuk kebutuhan pokok rumah tangga. Jangan sampai melenceng dari tujuan utamanya,” tegasnya.
Di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda, program ini menjadi napas bagi banyak keluarga.
Pemerintah pun berharap, suntikan bantuan ini bukan hanya meredakan beban sesaat, tetapi juga menjadi langkah konkret menekan angka kemiskinan di Kota Bukittinggi.
Bukittinggi sedang bergerak. Dan kali ini, yang digedor bukan pintu, melainkan kemiskinan itu sendiri.




