WAKTU TERUS bergulir. Gulirannya tiada terhentikan was-was atau rasa kekhawatiran. Tiada pula terhentikan dengan kecamuk kalbu Sang Jogowesti, istrinya, atau siapa pun. Detik demi detik bergulir terus sesuai fitrah-Nya; Sesuai waktu yang berjalan secara alamiah sebagai sunatullah.
Detik demi detik, lalu membentuk menit. Menit mengakumulasi jadilah waktu dalam jam. Dan jam pun mengkoordinasikannya ke hari yang kemudian memunculkan hitungan minggu, bulan, tahun, abad hingga seterusnya.
Dalam arena perjalanan sang waktu, lahir juga seorang anak laki laki dari rahim yang suci. Saat-saat kelahirannya, masuk pada tanggal yang pernah dikhawatirkan istri Wirohandjogo.
Ya, telah lahir dari rahim istri Wirohandjogo seorang anak laki-laki pada tanggal 9 Bulan Suro sore, kisaran awal 1930-an, dalam kalender Masehi.
Di antara celah-celah lengking tangisan sang bayi, mengembang jua sungging senyum kasih sayang; Teriring desis-desis doa keselamatan bagi sang putra yang baru dilahirkannya. Sikap pasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa, pun sangat dirasa ibunda sang bayi begitu indah.
Betapa tidak. Bukankah sikap pasrah dari setiap hati kecil selalu menjadi hiburan terjitu nan indah dalam upaya seseorang meredam was-was serta rasa kekhawatiran? Agaknya, ada keindahan yang sama dialami ibunda sang bayi yang baru dilahirkannya. Apalagi, keadaan bayinya sehat serta selamat.
Sungging senyum itu muncul jua di atas rasa sakit alang kepalang, kala menguras tenaga melahirkan. Bahkan, wajah sang bunda cenderung berseri-seri, sekali pun pucat pasi yang membias tidak tertutupkan.
Cucuran darah, keringat, dan rasa sakit luar biasa, sekuatnya hendak ditutup dengan keindahan rasa pasrah di kalbu, melalui sungging senyum termanis. Senyum yang muncuat pada saat keluarga menjenguk dengan rasa gembira serta mendoakan yang dilahirkan mau pun yang melahirkan.
Selintas, seakan punah sudah was was dan rasa khawatir. Rasa pasrah kehadirat Penguasa Alam Semesta, serasa telah menggantikan was was menjadi keyakinan untuk merengkuh harapan pada masa mendatang. Sehingga, yang kemudian muncul adalah rasa kebahagiaan yang tiada tergambarkan betapa indahnya anugrah jiwa…!
Memang, yang barusan terjadi pada peristiwa kelahiran tidak lantas menghilangkan simpul kepercayaan pada nuansa budaya secara umum. Kajian terkait penanggalan hingga karakter manusia, tetaplah terekam dalam nilai-nilai budaya yang turun menurun turut mengisi kehidupan masa silam, kini, dan esok.
Keberadaan terkait penanggalan atas kelahiran seseorang anak, umumnya masuk dalam lingkup tradisi orang Jawa. Pembahasan atas tanggalan akan terus berkelindan sepanjang masa. Bukankah adanya penanggalan Jawa sudah begitu kental dengan spekulasi kajian atas karakter, nasib, hingga ikhtiar yang kadang kala teriringkan ritual serta doa-doa tertentu?
Agaknya, setelah kelahiran seorang anak tidak akan lepas begitu saja. Penanggalan Jawa, tetap mengiring untuk memberikan pandangan di berbagai lini kehidupan alam fana.
Dalam penanggalan Jawa, dikenal ada 5 (lima) hari yang umum disebut pasaran, yakni; Legi, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon. Masingmasing pasaran punya sifat dan karakter sendiri-sendiri. Biasanya, orang Jawa mampu memperkirakan karakter seseorang melalui pasaran dan bulan kelahiran (wethon).
Ada 12 bulan pada penanggalan Jawa yang dimulai dari Bulan Suro atau Muharram bila didekati dengan Tahun Hijriyah (kalender umat Islam). Antara penanggalan Jawa dalam Tahun Saka dengan kalender Tahun Hijriyah relatif ditemukan kesamaan waktu karena pendekatan yang digunakan adalah edar bulan mengitari bumi. Sedangkan Tahun Masehi atau Miladiyah yang dipergunakan secara internasional, pendekatannya adalah edar bumi mengitari matahari.
Penggunaan Tahun Jawa (Saka) dan Tahun Hijriyah, terdapat sedikit perbedaan sebutan bulan. Perbedaan lainnya berupa kumulasi hitungan tahunnya. Kalau Tahun Hijriyah dimulai dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Sedangkan penanggalan Jawa mengikuti kumulasi hitungan Tahun Saka yang lebih dahulu ada, sebelum peristiwa hijrahnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada penetapan hari, Tahun Hijriyah menggunakan 7 hari dalam sepekan sebagaimana digunakan juga dalam kalender Masehi (Minggu/Al Ahad, Senin/Al-Itsnayn, Selasa/Yaumuts-Tsulatsā, Rabu/Arba’a, Kamis/ Al Khamis, Jumat/ Al-Jumu’ah, dan Sabtu/As-Sabt). Sedangkan kalender Saka yang dianut kelender Jawa hanya menggunakan 5 pasaran (Legi, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon).
Sementara itu, pada penanggalan Jawa menyebutkan bahwa awal tahun adalah Bulan Suro (Muharram dalam kalender Hijriyah), bulan kedua hingga keduabelas; Sapar (Safar), Mulud (Rabiul Awwal), Bakdo Mulud (Rabiul Akhir), Dumadil Awal (Jumadil Awwal), Dumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Saban/Ruwah (Sya’ban), Poso (Ramadhan), Sawal (Syawwal), Dulkaidah (Dzulqaidah), dan Kaji/Besar (Dzulhijjah).
Hari-hari pada Masehi mau pun Hijriyah, bila digabungkan dengan pasaran dari penanggalan Jawa, misal Senin Pon atau Selasa Wage, dalam pandangan ‘kejawen’ mempunyai karakter tersendiri. Bila seseorang lahir Senin Pon, karakternya dapat diperkirakan semacam demikian, begini dan begitu. Lahir pada Selasa Wage berbeda karakternya dengan orang yang lahir pada Senin Pon dan seterusnya.
Apabila hari pasaran itu dikaitkan dengan bulan kelahiran, missal: Senin Pon tanggal sekian bulan Suro, perkiraan karakter hingga nasib orang yang lahir hari itu, pun dapat dipaparkan sebagai pandangan. Sehingga, kadangkalanya mendatangkan was-was dan rasa kekhawatiran sebagaimana pernah dialami istri Wirohandjogo.
Hanya saja, untuk selanjutnya, terbukti juga bahwa munculnya was was dan rasa kekhawatiran tidaklah selamanya menjadi momok yang menakutkan. Apalagi jika kemudian seseorang mampu mengemaskan dengan sikap pasrah kehadirat Ilahi, teriring dengan kemauan berikhtiar dan doa-doa mengubah keadaan atau nasib ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya, kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta juga semuanya terkembalikan.
Boleh jadi, yang semula dikhawatirkan itu berubah menjadi harapan agar kelak, pada kemudian hari, teraih jua nilai-nilai kebaikan yang diridhai Tuhan Yang Mahapenentu lagi Mahaagung. Hal semacam ini agaknya melintas jua di kalbu Sang Jogowesti dan istrinya. Boleh jadi juga, nilai nilai filosofi ‘nrimo ing pandum’ menghunjam dalam di kalbu. (Asyaro G Kahean: BERSAMBUNG…)





