IMBCNews – Jakarta – JERMAN yang sejak kekalahannya melawan sekutu pimpinan Amerika Serikat pada Perang Dunia II berupaya menghindari konflik militer, kini berubah paradigma, dan menganggap serius potensi ancaman Rusia.
Tentara Jerman, Bundeswehr, seperti dilaporkan BBC (1/4) tengah melakukan latihan secara intens setelah adanya kenaikan anggaran pertahanan sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman dari Rusia.
“Kami terancam oleh Rusia di bawah Presiden Putin. Kita harus melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencegahnya,” ujar Panglima Bundeswehr Jenderal Carsten Breuer.
Invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Feb. 2022 telah mengubah cara pandang Jerman terhadap militernya. Selama beberapa dekade, negara ini menghindari militerisme, mengingat pengalaman pahit peran mereka dalam Perang Dunia I dan II.
“Jerman terbiasa menghindari konflik, tapi kali ini situasinya berbeda,” ujar Markus Ziener dari German Marshall Fund di Berlin.
Sementara itu, negara-negara seperti Polandia dan negara-negara Baltik bekas sempalan Uni Soviet (Estonia, Latvia dan Lithuania Latvia) yang bergabung ke NATO sudah lama meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Jerman di bawah kepemimpinan Kanselir Angela Merkel (2005 – 2021) lebih memilih pendekatan bisnis dengan Moskwa ketimbang mengedepankan posisinya sebagai anggota NATO yang berseberangan dengan negara Beruang Merah itu
Namun, Kanselir Olaf Scholz yang menggantikannya, pada 2022 mengumumkan telah mengalokasikan dana sebesar 100 miliar euro (Rp 1.787 triliun) untuk meningkatkan kemampuan militer Bundeswehr yang sebelumnya dilaporkan mengalami kekurangan mulai dari amunisi hingga personel, serta fasilitas yang terbengkalai.
Senada dengan militer Jerman, sorang pemuda di Berlin, Charlotte Kreft, mengakui bahwa pandangannya berubah.
“Dulu kami pikir, cara terbaik menebus kesalahan Perang Dunia II adalah dengan memastikan hal serupa tidak terjadi lagi, termasuk dengan tidak mempersenjatai diri. Namun sekarang, kita harus berjuang untuk demokrasi dan kebebasan,” ujarnya.
Barat Bermain Api
Sebaliknya, Rusia mengatakan, Barat sedang bermain api dengan mempertimbangkan untuk mengizinkan Ukraina menyerang jauh ke Rusia dengan rudal-rudal yang dipasok mereka.
Rusia juga memperingatkan AS (27/8) bahwa Perang Dunia III tidak akan terbatas di Eropa saja.
Ukraina melancarkan serangan balik ke wilayah Kursk di Rusia bagian barat pada 6 Agustus dan telah menguasai sebagian wilayah dalam serangan asing terbesar terhadap Rusia sejak PD II.
Presiden Vladimir Putin mengatakan akan ada tanggapan yang pantas dari Rusia terhadap serangan tersebut.
Menlu Rusia Sergey Lavrov mengatakan, Barat berusaha meningkatkan perang Ukraina dan mencari masalah dengan mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk melonggarkan pembatasan penggunaan senjata yang dipasok asing.
Sejak menginvasi Ukraina pada 2022, Putin telah berulang kali memperingatkan risiko perang yang jauh lebih luas, melibatkan kekuatan nuklir terbesar di dunia, meskipun ia mengatakan Rusia tidak menginginkan konflik dengan aliansi NATO pimpinan AS.
“Barat sedang bermain api, seperti anak kecil yang bermain korek api. Ini sangat berbahaya bagi paman dan bibi dewasa yang dipercaya memegang senjata nuklir di satu atau beberapa negara Barat,” kata Lavrov kepada wartawan di Moskwa.
“Orang Amerika dengan tegas mengasosiasikan pembicaraan tentang PD III sebagai sesuatu yang, mohon maaf, jika itu terjadi, akan berdampak bagi Eropa secara eksklusif,” kata Lavrov.
Lavrov menambahkan bahwa Rusia juga sedang mengklarifikasi doktrin nuklirnya. Doktrin nuklir Rusia tahun 2020 menetapkan kapan presidennya akan mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir.
Rusia, ujarnya, akan merespons setiap serangan menggunakan senjata pemusnah massal nuklir, atau senjata konvensional ketika keberadaan negara terancam.
Perbandingan kekuatan
Global FirePower menempatkan Rusia jauh di atas Jerman yakni 126 miliar dollar AS (sekitar Rp2.066 triliun) di urutan ke-3 setelah AS dan China dari 145 negara di dunia, sementara Jerman 50 miliar dollar AS (Rp 820 triliun) di urutan ke-11.
Rusia memiliki 1,32 juta personel aktif, dua juta tentara cadangan, dan 250.000 unit paramiliter, sebaliknya, Jerman dengan 181.600 personel tentara aktif dan 34.000 personel cadangan.
AD Rusia didukung sekitar 14.777 tank tempur utama termasuk T-90 dan T-14/T-15 Armata, 161.382 kendaraan lapis baja, 6.208 meriam swagerak dan 8.356 meriam tarik dan 3.065 peluncur rudal/roket.
Sebaliknya, Jerman hanya memiliki 295 tank termasuk Leopard, 79.317 kendaraan lapis baja, 134 artileri swagerak serta 33 peluncur roket, sementara AL Rusia mengopersikan satu kapal induk, 65 kapal selam, 14 destroyer, 12 fregat, 83 korvet, dan 122 kapal patroli. sedangkan Jerman mengoperasikan enam kapal selam, 12 fregat, dan lima korvet.
Matra udara Rusia memiliki 809 jet tempur termasuk siluman generasi ke-5 seperti SU-35 dan SU-57, 730 unit pesawat penyerang, 453 pesawat angkut, 552 pesawat latih, 145 pesawat misi khusus, 1.547 helikopter, dan 559 helikopter serang (KA-50 atau MI-35).
Sedangkan AU Jerman didukung 55 helikopter serang (a.l Apache AH-64 dan Eurocopter Tiger ) , 318 helikopter angkut, 37 pesawat misi khusus, 39 pesawat latih, 46 pesawat angkut, 76 pesawat penyerang (tornado) dan 133 jet tempur (Eurofighter Typhoon).
Lebih dari itu, Rusia adalah negara dengan hulu ledak nuklir terbanyak (5.889), dibandingkan AS pada urutan kedua dengan 5.224 buah.
Jika perang Jerman dan Rusia pecah, tentu 31 negara NATO termauk AS tidak bakal tinggal diam sehingga dikhawatirkan memicu PD III. (imbcnews/Theo/sumber diolah: BBC)