IMBCNEWS Jakarta | Prof. Dr. Armai Arif menegaskan, sesungguhnya puasa yang telah kita lewati bersama itu, untuk melatih manusia dapat bersikap jujur dan tidak mudah bohong. Saat ini banyak para pemimpin bangsa tampaknya mengalami krisis keteladanan beretika dan ketidak jujuran. Saat ini kita mempunyai presiden baru Prabo Subianto, dengan adanya program meningkatkan persatuan, kejujuran mari kita dukung semoga ia dapat dijadikan tauladan baik bagi generasinya.
Nah dalam puasa itu umat manusia dilatih untuk sabar dalam menyikapi banyak hal, berlatih
untuk berbicara yang santun, berlatih tidak menyakiti hati orang lain, untuk memaafkan kesalahan dan kekhilafan pihak lain. Bahkan lebih dari itu, kita berlatih berlaku jujur, tidak
berbohong, dari segala perbuatan yang tidak baik, kata Prof. Dr. Armai Areif dalam kutbah Idul Fitri 1 Syawal 1446 H di Masjid Almutaqin RW 14 Cimanggis Depok pada Senin.
Dalam puasa itu, kata Armai, kita berlatih menjadi manusia yang baik menurut Allah SWT dan menurut manusia melalui ibadah langsung kepada Allah ( َ ح ْبلم َنللا ) dan terhadap manusia ( َ ح ْبلم َنَّالناس ). “Semoga nilai-nilai Ramadan tersebut dapat dilanjutkan terus ke dalam kehidupan seterusnya di luar Ramadan sehingga latihan selama Ramadan kemarin tidak sia-sia,” katanya menegaskan lagi.
Tidak mudah mempertahankan jasmani dan rohani kita agar selalu suci dan bersih. Kita masih harus berjuang keras untuk melawan gangguan yang datang dari luar dan dari dalam sendiri pada setiap waktu. Sifat ketuhanan ( َ ل ُه ْوت ) yang ada dalam diri kita selalu berperang melawan sifat kemanusiaan ( َ ن ُس ْوت ) kita.
“Kita selalu kalah melawan hawa nafsu. Oleh karena itu masih perlu menghidupkan nilai-nilai Ramadan pada bulan-bulan mendatang,” katanya.
Menurutnya, budaya saling memaafkan yang menjadi ciri Ramadan dan Idul Fitri di Indonesia yang ada selama ini perlu kita terus tingkatkan, apalagi beberapa bulan terakhir ini bangsa Indonesia dalam suasana yang kurang nyaman. Silaturrahmi terganggu. Rasa persaudaraan sebagai sesama orang Indonesia ada ganjalan. Kita saling menghujat, saling mengkafirkan dan saling menyalahkan. Sikap saling menjelekkan itu bukan saja terbaca pada sosial media, tetapi juga di berbagai kesempatan termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Seolah kita sudah kehilangan kendali.
Dalam kondisi yang demikian, kita perlu menyimak kembali peringatan Allah SWT yang tercantum dalam Surat al-Hujurat (Surat ke 49) ayat 11- 12 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok), janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan siapapun yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”
Indonesia Negara Demokrasi Terbesar
Prof. Armai Areif yang juga dosen di Univ Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta itu menyampaikan, bersyukur adanya reformasi digulirkan tahun 1998. Masyarakat Indonesia – yang jumlah penduduknya mencapai 250
juta lebih, yang berada di sekitar 15 ribu pulau, dengan 700 lebih suku bangsa, dan berbagai macam agama – lebih leluasa untuk menyampaikan pemikiran dan pendapatnya. Itu semua buah dari refomarsi.
Atas dasar ini, oleh Presiden Federal Jerman, Indonesia dinilai sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika ketika memberikan ceramah di Auditorium Terapung Perpustakaan Universitas
Indonesia di Depok pada tanggal 1 Desember 2011 (Tempo 2 Desember 2011). Selain itu, Indonesia juga dinilai sebagai Negara demokrasi yang toleransi beragamanya sangat tinggi (Kompas 11/02/2016).
Predikat tersebut, katanya, patut dipertahankan dan bahkan kita tingkatkan. Akan tetapi sekitar pertengahan tahun 2016 sampai dengan sekarang, bangsa Indonesia ada cobaan berupa gesekan. Sampai dengan sekarang kita masih menemukan banyak omongan dan tulisan yang berisi saling menghujat, saling menebar berita bohong, saling mengadu, saling memperolok, saling mencela, saling berprasangka buruk, dan saling tidak percaya. Berbagai sikap yang demikian ini semoga dapat segera kita kurangi dan bahkan dihilangkan berkat kehadiran Ramadan
merusak diri kita sendiri, sikap yang demikian buruk akan merusak kehidupan kita sebagai seagama, sebangsa dan setanah air.
Allah SWT menyindir “sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudara yang sudah mati?”. Allah SWT selanjutnya menasehati janganlah demikian, tetapi “Bertaqwalah kepada Allah karena Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Marilah Ramadan dan Idul Fitri ini kita jadikan momentum untuk kembali bersatu dalam meningkatkan persaudaraan seagama, sebangsa, dan setanah air.
Sementara itu, Ketua takmir Masjid Almutaqin, H. Muttamin yang didampingi Banar Setiyo, dan Ketua RW 14 Sugeng Bagiono menambahkan, Ada berbagai even utuk menyemarakkan Bulan Ramadhan di Masjid Al Muttaqin, antara lain Lomba Anak-anak Ramadhan ceria ke 5,degan 5 jenis lomba seperti, Lomba MTQ, Lomba MHQ, Lomba Adzan dan lomba Fashion Show. Kegiatan Nuzulul Quran dg membaca Quran secara berjamaah diikuti sekitar 60 org jama’ah dan juga Almutaqin mengadakan kegiatan berbagi kepada musafir, Dhuafa dll, termasuk mengadakan pembagian zakat dan Maal DKM Al Muttaqin kepada kaum papa.
Sugeng Bagiono menegskan, selaku Ketua RW mendorong berbagai kegiatan positif dalam lingkungan warga RW 014. Kel. Cimanggis Depok.
“Pada prinsipnya semua kegiatan yang berifat membangun keumatan, membangun tolerasi dan persatuan, pengurus RW berada dibelakangnya. Kita selalau menjaga kerukunan sesama umat, sesama warga melalui berbagai kegiatan baik lewat masjid maupun lewat kegiatan ke Rw-an,” katanya seranya menambahkan, kegiatan positif itu akan terus kita dorong dan tingkatkan.
imbcnews/diolah/